Kunjungan Balasan PUSDOK Al-Irsyad Bogor ke Majelis Hikmah Alawiyah

Kunjungan Balasan Pusdok ke Mahya, 12 Maret 2020c

Pusat Dokumentasi (PUSDOK) dan Kajian Al-Irsyad Bogor yang dipimpin oleh Abdullah Abubakar Batarfie bersama tim yang terdiri dari Ir. Zeyd Amar, Nabil A. Karim Hayaze dan Abdullah Elly bersilaturahim ke kantor Majelis Hikmah Alawiyah atau MAHYA di Jakarta Selatan pada Rabu 11 Maret 2020. Ini merupakan kunjungan balasan setelah MAHYA berkunjung ke kantor Pusdok Al-Irsyad di Bogor pada 3 Maret 2020.

BACA SELENGKAPNYA “Kunjungan Balasan PUSDOK Al-Irsyad Bogor ke Majelis Hikmah Alawiyah”

Kunjungan Majelis Hikmah Alawiyah ke Pusdok Al-Irsyad Bogor

Ketua Pusdok Al-Irsyad Bogor ABDULLAH BATARFI (kanan) berbincang dengan sekretaris MAHYA  Abdul Hafidz Al-Attas dan Kepala Perpusatakaan Kanzul Hikmah, ABDUL KARIM
Ketua Pusdok Al-Irsyad Bogor ABDULLAH BATARFI (kanan) berbincang dengan sekretaris MAHYA Abdul Hafidz Al-Attas dan Kepala Perpusatakaan Kanzul Hikmah, ABDUL KARIM (kiri peci putih)

Sekretaris Majelis Hikmah Alawiyah atau MAHYA Abdul Hafidz Al-Attas bersama Kepala Perpusatakaan Kanzul Hikmah Ustadz Abdul Karim, melakukan kunjungan Silaturahmi ke Pusat Dokumentasi (PUSDOK) Dan Kajian Al-Irsyad Bogor pada Selasa 3 Maret 2020.  Tujuan dari kunjungan silaturahmi tersebut adalah untuk mengembalikan dan mempererat hubungan antara kedua keluarga besar yang merupakan bagian dari umat dan bangsa Indonesia, terutama dalam bidang kerjasama keilmuan dan sejarah.
BACA SELENGKAPNYA “Kunjungan Majelis Hikmah Alawiyah ke Pusdok Al-Irsyad Bogor”

Kunjungan Huub de Jonge (Peneliti Belanda) di Pusdok Al-Irsyad

Huub de Jonge di Pusdok

Pusat Dokumentasi dan Kajian (PUSDOK) Al-Irsyad Bogor saat ini telah menjadi salah satu rujukan para akademisi, peminat dan pemerhati sejarah, terutama sejarah tentang latar belakang, masa pertumbuhan, lahir dan berkembangnya gerakan dan pemikiran Al-Irsyad di Indonesia. Koleksi yang sampai dengan saat ini dihimpunnya adalah karya intelektual dari para pendiri dan ulama-ulama Al-Irsyad, kitab-kitab yang menjadi rujukan ideologi Al-Irsyad, majalah dan dokumen-dokumen otentik organisasi lainnya sejak tahun 1914. Koleksi tertua yang dimiliki dan berhubungan dengan latar belakang kelahiran ideologi Al-Irsyad adalah majalah Al-Urwatul Wutsqo yang diterbitkan di Paris pada tahun 1884 oleh Sayyid Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh.
BACA SELENGKAPNYA “Kunjungan Huub de Jonge (Peneliti Belanda) di Pusdok Al-Irsyad”

Ustadz Ahmad Mahfoudz, Sekretaris Panitia Kongres Pertama Al-Irsyad, Wafat

Oleh: Abdullah Batarfi

Ustadz Ahmad Mahfoudz, sekretaris Panitia Congres Jubelium 1939
Ustadz Ahmad bin Salim Mahfudz (berpeci miring, dalam lingkaran).

Tanggal 1 Oktober 1939 atau 80 tahun yang silam, sebuah peristiwa  penting telah dicatat dalam lembaran sejarah Al-Irsyad. Karena di tanggal itulah bertempat di kota Surabaya, Congres Jubelium atau Peringatan 25 Tahun Al-Irsyad yang diselenggarakan secara besar-besaran dari sejak tanggal 26 September 1939 telah resmi ditutup.

Bagi Al-Irsyad, Kongres atau yang disebut sebagai Muktamar itu merupakan perhelatan akbar pertamanya yang diselenggarakan di tingkat nasional, karena sebelumnya kewajiban konstitusional tersebut masih dinamakan sebagai Rapat Umum Anggota atau Openbare Vergadering yang berlangsung setiap satu tahun sekali di Batavia (Jakarta), sejak pertama kalinya Al-Irsyad didirikan pada 6 September 1914.
BACA SELENGKAPNYA “Ustadz Ahmad Mahfoudz, Sekretaris Panitia Kongres Pertama Al-Irsyad, Wafat”

Seminar Ahmad Surkati, Pejuang, Pendidik dan Pembaharu

 

Syaikh Ahmad Surkati
Syaikh Ahmad Surkati

Panitia Pengusul Syaikh Ahmad Syurkati sebagai Pahlawan Nasional bekerjasama dengan Pusat Dokumentasi dan Kajian (PUSDOK) Al-Irsyad Bogor telah menggelar seminar perdana tentang Syaikh Ahmad Surkati, di JakBook, Salemba, Jakarta Pusat, Selasa (17 Sept. 2019) kemarin. Seminar ini dilangsungkan sebagai sarana sosialisasi tentang ketokohan Syaikh Ahmad Surkati dan sekaligus untuk memenuhi syarat pengajuan pahlawan nasional.

Tim Pengusul Ahmad Surkati Pahlawan Nasional dibentuk oleh masyarakat sejarah dan ahli waris Syaikh Ahmad Surkati.

Seminar bertajuk “Syaikh Ahmad Surkati, Pejuang, Pendidik dan Pembaharu Islam” ini merupakan yang pertama dari serangkaian seminar yang dijadwalkan Tim Pengusul dan PUSDOK di beberapa kota. Seminar-seminar ini diharapkan makin membuka wawasan masyarakat tentang sosok besar Syekh Ahmad Surkati, baik sebagai pelopor utama pembaharuan Islam di Indonesia maupun sebagai guru spiritual para tokoh kemerdekaan negeri ini.

P_20190917_100229
Pembicara Dr. Motoki Yamaguchi (kanan) dan Ir. Zeyd Amar (kiri) yang juga ketua Tim Pengusul Syaikh Ahmad Surkati Pahlawan Nasional

Seminar kali ini menghadirkan Dr Motoki Yamaguchi, peneliti Islam Asia Tenggara, sebagai nara sumber utama. Ia didampingi oleh Ir. Zeyd Amar, ketua Tim Pengusul Ahmad Surkati Pahlawan Nasional. Motoki banyak meneliti peran Syekh Ahmad Surkati dan pergerakan Al-Irsyad dalam pembaharuan Islam di Indonesia.
BACA SELENGKAPNYA “Seminar Ahmad Surkati, Pejuang, Pendidik dan Pembaharu”

Napak Tilas Menelusuri Jejak Al-Irsyad di Ranau

Oleh: Abdullah Batarfie

Pusat Dokumentasi Sejarah & Kajian (PUSDOK) Al-Irsyad Bogor kembali melakukan kegiatan napak tilas dengan menelusuri jejak keberadaan Al-Irsyad di Ranau, Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, Sumatera Selatan, pada 7-8 Agustus 2019.

07 Desa Pagar Dewa
Desa Pagar Dewa, Kec. Warkuk Ranau Selatan, Kab. Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan, Prov. Sumatera Selatan

Pembentukan dan peresmian cabang Al-Irsyad pada 1927 di Desa Pagar Dewa, Ranau, pernah tercatat dalam notulen resmi yang ditulis oleh Hoodbestuur Al-Irsyad di Batavia (Jakarta). Berita itu oleh H.Hussein Badjerei kemudian dimuat dalam buku karyanya, Al-Irsyad Mengisi Sejarah Bangsa (1996). Cuma sayang, dalam buku itu tidak tercantum tanggal pembentukan dan nama para pelaku yang terlibat di dalamnya. Hanya saja disebutkan pembukaan cabang Al-Irsyad di Ranau dihadiri dan diresmikan oleh Sekretaris Hoodbestuur Al-Irsyad, Ali Harharah dalam acara yang cukup meriah.

Setelah dilakukan ikhtiar penggalian dan pencarian lebih dalam oleh PUSDOK dari berbagai sumber dan literatur, akhirnya tabir sejarah ini terungkap sedikit lebih gamblang melalui buku Kaum Tuo-Kaum Mudo, hasil studi ilmiah tentang Perubahan Religius di Palembang periode 1821-1942  yang ditulis oleh seorang intelektual berkebangsaan Belanda Jeroen Peeters. Buku itu diterbitkan oleh Indonesian-Netherlands Cooperation in Islamic Studies (INIS) pada 1997.
BACA SELENGKAPNYA “Napak Tilas Menelusuri Jejak Al-Irsyad di Ranau”

Letkol Iskandar Idries, Ulama dan Pejuang Al-Irsyad Pekalongan

Oleh: Abdullah Batarfi

Perjalanan napak tilas Pusat Dokumentasi dan Kajian (Pusdok) Al-Irsyad Bogor ke kota Pekalongan (1 April 2019) berhasil menemui dua nara sumber penting guna menelusuri jejak perjuangan dua bersaudara kandung dididikan langsung Syaikh Ahmad Surkati, yaitu almarhum Letkol KH Iskandar Idries dan Ismail Idries. Penelusuran ini berkat bantuan dan usaha al-Akh Awod Maretan yang telah banyak memberikan arahan dan petunjuk sehingga memudahkan kami dapat menemui kedua orang nara sumber tersebut di kampung Pekajangan, Kabupaten Pekalongan.
Pekalongan.

 

Letkol KH Iskandar Idries
Letkol KH Iskandar Idries
Ustadz Ismail Idries
Ustadz Ismail Idries

 
BACA SELENGKAPNYA “Letkol Iskandar Idries, Ulama dan Pejuang Al-Irsyad Pekalongan”

Diskusi Ali Ahmad Baktsir, Pejuang Indonesia di Bumi Mesir

Ali Ahmad Baktsir, diskusi Pusdok Bogor 21 April 2018

Pusat Dokumentasi dan Kajian (Pusdok) Al-Irsyad Al-Islamiyyah Bogor telah sukses menggelar diskusi tentang ketokohan Ali Ahmad Baktsir, di Kantor Sekretariat PC Al-Irsyad Bogor, Empang, Kota Bogor, Sabtu 21 April 2018 malam.

Diskusi yang menyedot perhatian puluhan warga Al-Irsyad Bogor dan Jakarta serta masyarakat umum ini diisi oleh nara sumber Nabil Abdul Karim Hayaze, direktur Menara Center, dan Dr. Zeffry Alkatiri dari Fakultas Budaya Universitas Indonesia, dengan dimoderatori oleh Mansyur Alkatiri.

Diskusi yang bertema “Karya Sastra dan Perjuangan Ali Baktsier, Tokoh Dibalik Lahirnya Pengakuan Mesir dan Liga Arab terhadap Kemerdekaan Indonesia” ini merupakan diskusi perdana Pusdok Al-Irsyad Al-Islamiyyah Bogor yang diketuai oleh Abdullah Batarfi.

Topik tentang Ali Baktsir ini diangkat mengingat perannya yang begitu besar dalam proses pengakuan kedaulatan RI oleh negara-negara Arab, bukan hanya Mesir. Dan, seperti dinyatakan oleh Nabil Hayaze, dengan adanya pengakuan itu maka Indonesia secara de jure adalah negara berdaulat. Selain Mesir dan Liga Arab, pengakuan juga datang dari Arab Saudi, Lebanon, Syria, Irak, Yaman dan Afghanistan. Sementara negara-negara Barat baru mengakui kemerdekaan Indonesia setelah 1949, menyusul pengakuan kedaulatan oleh Belanda.
BACA SELENGKAPNYA “Diskusi Ali Ahmad Baktsir, Pejuang Indonesia di Bumi Mesir”