Letkol Iskandar Idries, Ulama dan Pejuang Al-Irsyad Pekalongan

Oleh: Abdullah Batarfi

Perjalanan napak tilas Pusat Dokumentasi dan Kajian (Pusdok) Al-Irsyad Bogor ke kota Pekalongan (1 April 2019) berhasil menemui dua nara sumber penting guna menelusuri jejak perjuangan dua bersaudara kandung dididikan langsung Syaikh Ahmad Surkati, yaitu almarhum Letkol KH Iskandar Idries dan Ismail Idries. Penelusuran ini berkat bantuan dan usaha al-Akh Awod Maretan yang telah banyak memberikan arahan dan petunjuk sehingga memudahkan kami dapat menemui kedua orang nara sumber tersebut di kampung Pekajangan, Kabupaten Pekalongan.
Pekalongan.

 

Letkol KH Iskandar Idries
Letkol KH Iskandar Idries
Ustadz Ismail Idries
Ustadz Ismail Idries

 

Dua nara sumber ini adalah kakak beradik Ibu Muslihah dan Bapak Gozi Agus Gunung. Keduanya putera dan puteri dari 11 bersaudara anak pasangan Ustadz Ismail Idries dan Ibu Juhariyah bt Ma’ruf. Selain kisah hidup dan perjuangan kedua tokoh di atas, tim napak tilas juga berhasil mengunjungi bekas rumah KH Iskandar Idris yang dulu pernah ditempati bersama istrinya Siti Rauchah. Kini rumah tersebut dipergunakan sebagai kantor sekretariat Pimpinan Muhammadiyah Pekajangan tanpa merubah keaslian bentuknya yang dibangun sejak tahun 1925.

Tim PUSDOK Al-Irsyad Bogor bersama Ibu Muslihah binti Ismail Idries dan anaknya
Tim PUSDOK Al-Irsyad Bogor bersama Ibu Muslihah binti Ismail Idries dan anaknya

Iskandar Idries lahir pada 17 Februari 1901 di Kelurahan Semplak, Buitenzorg (sekarang Bogor). Ayahnya, Idris, adalah priyayi Jawa asal Rembang yang pernah menjadi mahasiswa Stovia di Batavia. Sedangkan ibunya wanita totok Belanda yang telah berganti agama menjadi muslimah setelah menikah dengan ayahnya dan diberinya nama baru, Siti Marfuah.

Iskandar Idries memperoleh pendidikan awalnya di sekolah Jami’at Kheir dan kemudian Al-Irsyad. Pada tahun 1921, Iskandar ditugaskan oleh datang ke Pekalongan untuk menjadi guru agama di sekolah Al-Irsyad. Dan di sekolah Al-Irsyad Pekalongan ini pula ia memberikan kesaksian atas terciptanya logo Al-Irsyad yang monumental oleh Ustadz Muhammad Munif yang dirangkai dari hasil kreasi murid-muridnya. Di Al-Irsyad, Iskandar pernah menduduki jabatan sebagai wakil ketua Pengurus Besar dan pernah beberapa kali memimpin persidangan Muktamar Al-Irsyad Al-Islamiyyah.

Iskandar juga pernah dua kali menjabat sebagai Ketua Muhammadiyah cabang Pekalongan yaitu tahun 1923-1931 dan menjabat lagi tahun 1938 serta berperan mendirikan suatu perkumpulan dagang yang mengajarkan anggotanya pengetahuan atau manajemen dagang. Iskandar juga pernah mengajar di  Muhammadiyah Tegal pada 1931-1936. Tahun 1936 Iskandar Idries juga pernah bekerja di Perusahaan Asuransi Bumi Putra. Pada masa itu, Iskandar menerbitkan buku Tafsir Hibarna, sebuah kitab tafsir Al-Quran, dan sejumlah buku agama Islam, dalam bahasa Melayu Jawa.

Selain foto dan dokumen penting, tim napak tilas berhasil mengumpulkan kembali buku-buku karangannya yang ditulis dalam Bahasa Arab, Melayu dan Jawa, di antaranya “Kitab Pembimbing Ke Bahasa Al-Qur’an” dan “Assulam illa Lughoh Al-Qur’an” karangan Ismail Idris dan kitab tafsir HIBARNA karangan KH Iskandar Idris, dan juga kitab-kitab lainnya.

Bersama Ghozi Agus Gunung, anak dari Ustadz Ismail Idries
Bersama Ghozi Agus Gunung, anak dari Ustadz Ismail Idries

Ade Yuli Rukhpianti, mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dalam skripsinya yang berjudul “Tafsir Hibarna, Kajian terhadap Metodologi Penafsiran Al-Qur’an (2010) menulis bahwa metode penulisan tafsir Hibarna karya KH Iskandar Idries terbilang langka dan bahkan satu-satunya di Indonesia yang menggunakan metode penafsiran analisis berdasarkan situasi di mana Mufassir hidup pada zamannya. Corak dalam penulisan tafsir inipun tidak terlepas dari pengaruh tersebut, baik fisik maupun secara psikis. Tafsir ini diperkaya dengan peribahasa-peribahasa yang lazim beredar di masa itu dengan menyelipkan kosa kata dalam istilah peperangan dan bahasa asing (Belanda) karena mufassir hidup pada masa pergolakan (peperangan) merebut kemerdekaan dari tangan penjajah Belanda dan ia turut serta di dalamnya. Iskandar pernah memimpin pasukan gerilya di sekitar pegunungan Dieng pada agresi militer Belanda kedua.

Kiprahnya di militer dimulai sejak masa penjajahan Jepang. Ia mengikuti pendidikan militer Pembela Tanah Air (PETA) dan terpilih sebagai daidancho (komandan batalyon). Setelah Proklamasi Kemerdekaan RI diumumkan, Iskandar mendirikan dan menjadi pemimpin Badan Keamanan Rakyat (BKR) Karesidenan Pekalongan bersama Rochim Gondosuwito. BKR ini kemudian menjadi TKR dan lalu TNI. Dari sumber buku Ensiklipedi Tokoh Pekalongan yang disusun oleh Dirhamsyah, M, disebutkan bahwa, Iskandar bersama tokoh lainnya tercatat ikut terlibat dalam kelahiran Korem 071/Wijayakusuma.

Dari salah satu sumber menyebutkan, Iskandar hampir dieksekusi mati oleh gerombolan Tiga Daerah di Tegal pada tahun 1945, tetapi rencana eksekusi bocor ke tangan sahabatnya KH. Siraj yang asli dari Tegal. KH. Siraj kemudian memberitahu adiknya Ismail Hasan Idris yang kemudian menyusun rencana memancing pimpinan gerombolan Tiga Daerah agar berkunjung ke Kawedenan Kedungwuni yang akan menggabungkan diri mendukung gerombolan Tiga Daerah. Namun, sebenarnya Ismail Hasan telah bersiap akan menyergap kedatangan gerombolan Tiga Daerah itu dengan rentetan tembakan. Kemudian Pasukan Resimen TKR mendengar berita penembakan itu dan segera mengambil tindakan untuk menangkap gerombolan tersebut. Para pemberontak Tiga Daerah itu segera dilucuti oleh TKR di Hotel Merdeka. Tentara menangkap sekita 50 pengawal gerakan itu dan menahannya di penjara Pekalongan. Kolonel Iskandar Idries pun berhasil dibebaskan oleh Pasukan TKR yang datang bersama Laskar Hizbullah Pekalongan pimpinan Ismail Hasan Idries, yang tidak lain adalah adiknya.

Makam Letkol KH Iskandar Idries dan isterinya, Siti Aisyah
Makam Letkol KH Iskandar Idries dan isterinya, Siti Aisyah

Iskandar Idries pernah diangkat sebagai Komandan Brigade VII Pekalongan yang membawahi 8 batalyon, beberapa orang pimpinan batalyon dibawahnya adalah Suharto yang kelak menjadi Presiden Republik Indonesia ke-2,  Ahmad Yani (pahlawan revolusi), Mayor Bustomi (lalu menjadi gubernur Sumatera Selatan) dan Wiluyo Puspoyudo (pernah wakil ketua MRS). Jabatannya di militer yang terakhir adalah sebagai ulama pembimbing rohani Angkatan Darat dengan pangkat Letnan Kolonel.

Di masa tuanya ia memilih kembali ketempat kelahirannya di Bogor hingga akhir hayatnya. Dua diantara anaknya cukup dikenal di tanah air yaitu Profesor Dr. Dadang Hawari (Psikolog terkenal) dan Dr. Abdul Mun’im Idries (ahli forensik).

Tim Pusdok Al-Irsyad Bogor sempat melakukan penelusuran ke tempat kelahirannya di Kedung Halang Bogor yang berada di kawasan Semplak Kaum, tidak jauh dari Lanud AU Atang Sandjaya. Tim Pusdok juga menyempatkan diri berziarah ke makamnya di alamat yang sama. Di nisannya tertulis namanya H. Iskandar Idries, wafat pada 17 November 1982.*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>