Seminar Ahmad Surkati, Pejuang, Pendidik dan Pembaharu

 

Syaikh Ahmad Surkati
Syaikh Ahmad Surkati

Panitia Pengusul Syaikh Ahmad Syurkati sebagai Pahlawan Nasional bekerjasama dengan Pusat Dokumentasi dan Kajian (PUSDOK) Al-Irsyad Bogor telah menggelar seminar perdana tentang Syaikh Ahmad Surkati, di JakBook, Salemba, Jakarta Pusat, Selasa (17 Sept. 2019) kemarin. Seminar ini dilangsungkan sebagai sarana sosialisasi tentang ketokohan Syaikh Ahmad Surkati dan sekaligus untuk memenuhi syarat pengajuan pahlawan nasional.

Tim Pengusul Ahmad Surkati Pahlawan Nasional dibentuk oleh masyarakat sejarah dan ahli waris Syaikh Ahmad Surkati.

Seminar bertajuk “Syaikh Ahmad Surkati, Pejuang, Pendidik dan Pembaharu Islam” ini merupakan yang pertama dari serangkaian seminar yang dijadwalkan Tim Pengusul dan PUSDOK di beberapa kota. Seminar-seminar ini diharapkan makin membuka wawasan masyarakat tentang sosok besar Syekh Ahmad Surkati, baik sebagai pelopor utama pembaharuan Islam di Indonesia maupun sebagai guru spiritual para tokoh kemerdekaan negeri ini.

P_20190917_100229
Pembicara Dr. Motoki Yamaguchi (kanan) dan Ir. Zeyd Amar (kiri) yang juga ketua Tim Pengusul Syaikh Ahmad Surkati Pahlawan Nasional

Seminar kali ini menghadirkan Dr Motoki Yamaguchi, peneliti Islam Asia Tenggara, sebagai nara sumber utama. Ia didampingi oleh Ir. Zeyd Amar, ketua Tim Pengusul Ahmad Surkati Pahlawan Nasional. Motoki banyak meneliti peran Syekh Ahmad Surkati dan pergerakan Al-Irsyad dalam pembaharuan Islam di Indonesia.
BACA SELENGKAPNYA “Seminar Ahmad Surkati, Pejuang, Pendidik dan Pembaharu”

Napak Tilas Menelusuri Jejak Al-Irsyad di Ranau

Oleh: Abdullah Batarfie

Pusat Dokumentasi Sejarah & Kajian (PUSDOK) Al-Irsyad Bogor kembali melakukan kegiatan napak tilas dengan menelusuri jejak keberadaan Al-Irsyad di Ranau, Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, Sumatera Selatan, pada 7-8 Agustus 2019.

07 Desa Pagar Dewa
Desa Pagar Dewa, Kec. Warkuk Ranau Selatan, Kab. Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan, Prov. Sumatera Selatan

Pembentukan dan peresmian cabang Al-Irsyad pada 1927 di Desa Pagar Dewa, Ranau, pernah tercatat dalam notulen resmi yang ditulis oleh Hoodbestuur Al-Irsyad di Batavia (Jakarta). Berita itu oleh H.Hussein Badjerei kemudian dimuat dalam buku karyanya, Al-Irsyad Mengisi Sejarah Bangsa (1996). Cuma sayang, dalam buku itu tidak tercantum tanggal pembentukan dan nama para pelaku yang terlibat di dalamnya. Hanya saja disebutkan pembukaan cabang Al-Irsyad di Ranau dihadiri dan diresmikan oleh Sekretaris Hoodbestuur Al-Irsyad, Ali Harharah dalam acara yang cukup meriah.

Setelah dilakukan ikhtiar penggalian dan pencarian lebih dalam oleh PUSDOK dari berbagai sumber dan literatur, akhirnya tabir sejarah ini terungkap sedikit lebih gamblang melalui buku Kaum Tuo-Kaum Mudo, hasil studi ilmiah tentang Perubahan Religius di Palembang periode 1821-1942  yang ditulis oleh seorang intelektual berkebangsaan Belanda Jeroen Peeters. Buku itu diterbitkan oleh Indonesian-Netherlands Cooperation in Islamic Studies (INIS) pada 1997.
BACA SELENGKAPNYA “Napak Tilas Menelusuri Jejak Al-Irsyad di Ranau”

Letkol Iskandar Idries, Ulama dan Pejuang Al-Irsyad Pekalongan

Oleh: Abdullah Batarfi

Perjalanan napak tilas Pusat Dokumentasi dan Kajian (Pusdok) Al-Irsyad Bogor ke kota Pekalongan (1 April 2019) berhasil menemui dua nara sumber penting guna menelusuri jejak perjuangan dua bersaudara kandung dididikan langsung Syaikh Ahmad Surkati, yaitu almarhum Letkol KH Iskandar Idries dan Ismail Idries. Penelusuran ini berkat bantuan dan usaha al-Akh Awod Maretan yang telah banyak memberikan arahan dan petunjuk sehingga memudahkan kami dapat menemui kedua orang nara sumber tersebut di kampung Pekajangan, Kabupaten Pekalongan.
Pekalongan.

 

Letkol KH Iskandar Idries
Letkol KH Iskandar Idries
Ustadz Ismail Idries
Ustadz Ismail Idries

 
BACA SELENGKAPNYA “Letkol Iskandar Idries, Ulama dan Pejuang Al-Irsyad Pekalongan”

M. Yunus Anis, Ketum Muhammadiyah dan Murid Syekh Surkati

KH Muhammad Yunus Anis, Ketum Muhammadiyah yang ‘Tentara’

M. Yunus AnisDalam sejarahnya, Muhammadiyah pernah memiliki seorang kader yang tidak hanya berperan di ranah sipil, melainkan juga militer. Dialah KH Muhammad Yunus Anis.

Seperti diungkapkan M Yunan Yusuf dalam Ensiklopedi Muhammadiyah, pria yang lahir pada 3 Mei 1903 itu merupakan anak sulung dari sembilan bersaudara. Ayahnya bernama Haji Muhammad Anis, seorang tokoh Muslim sekaligus abdi dalem Keraton Yogyakarta. Ibundanya adalah Siti Saudah.

Lahir di Kampung Kauman Yogyakarta, sejak kecil Muhammad Yunus memeroleh pendidikan agama Islam yang intens di rumah. Ayahnya sangat menekankan agar anak-anak disiplin mengaji Al-Qur’an dan mengamalkan akhlak yang baik.

Pendidikan dasarnya diawali di Sekolah Rakjat Muhammadiyah Yogyakarta. Selanjutnya, dia hijrah ke Batavia (Jakarta) untuk belajar di Al-Attas School, dan kemudian di Madrasah Al-Irsyad yang dipimpin Syekh Ahmad Muhammad Surkati al-Anshari, tokoh pendidikan nasional kelahiran Sudan, yang merupakan sahabat erat KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.

BACA SELENGKAPNYA “M. Yunus Anis, Ketum Muhammadiyah dan Murid Syekh Surkati”

Ahmad Surkati, Pejuang Sejati

AHMAD SURKATI, Pejuang Sejati

Oleh: Mansyur Alkatiri

Syekh Ahmad Surkati di Jubileum 1939

Ahmad Surkati sangat membenci penjajahan dan tidak mau umat Islam Indonesia diperbudak oleh orang-orang Belanda serta berupaya mengubah kondisi itu dengan menanamkan kesadaran pada segenap umat akan bahayanya penjajahan. Sikap anti penjajahan itu diperlihatkan dengan memperjuangkan persamaan derajat sesama manusia (Al-Musawa). Menurut Ahmad Soerkati, ”Mencapai kebebasan dari penjajahan tidak dapat diraih dengan jiwa yang rendah.” (Darmansyah, dkk. 2006, hal. 10-11).

Dalam sebuah ceramah terbuka di Surabaya pada 29 Desember 1928, yang dihadiri sekitar 700 warga Al-Irsyad dan umat Islam Surabaya, Syekh Ahmad Surkati menekankan pentingnya ilmu dipegang oleh orang-orang yang berani. Ia menyatakan, “Ilmu bagi manusia sama halnya seperti sebilah pedang, tak bisa memberi manfaat kecuali bila pedang itu ada di tangan orang yang berani mempergunakannya. Sebilah pedang dipegang oleh seorang penakut terhadap musuhnya, berarti senjata makan tuan”. Apa yang diucapkan Surkati itu di tengah maraknya gerakan kebangsaan Indonesia saat itu serta kondisi rakyat Indonesia sebagai rakyat jajahan, dapat kita tangkap sebagai sebuah pelajaran berharga bagi para hadirin.

Kepada para pemuda Jong Islamieten Bond, Surkati juga keras tegas mengajarkan keyakinan Qur’ani bahwa setiap manusia dilahirkan dalam keadaan bebas dan merdeka. Belanda bukan hanya menjajah fisik namun juga menindas harkat dan jiwa bangsa Indonesia. Surkati juga memberi kesempatan kepada pemuda-pemuda pergerakan nasional itu untuk menggunakan fasilitas pendidikan Al-Irsyad. Mereka pun secara berkala mengikuti ceramah dan kursus agama yang diadakan di gedung Al-Irsyad.
BACA SELENGKAPNYA “Ahmad Surkati, Pejuang Sejati”

Syekh Hasan Argubi

Syekh Hasan Argubi (1903-1953)

Oleh: Abdullah Batarfie  (ketua Pusdok Al-Irsyad Al-Islamiyyah Bogor)

Hasan Argobie

Ia adalah menantu tokoh terkemuka dan salah satu pendiri Al-Irsyad Syekh Umar bin Yusuf Manggus. Syekh Hasan Argubi adalah lulusan Madrasah Al-Irsyad Pekalongan yang menikah dengan Ibu Nonong Manggus. Ibu Nonong adalah tokoh dan aktivis Wanita Al-Irsyad di Jakarta.

Syekh Hasan Argubi menggantikan dan meneruskan jabatan mertuanya sebagai Kapten Arab yang berakhir pada 1931. Umar Manggus dilantik sebagai Kapten Arab Batavia pada 28 Desember 1902 dengan didampingi oleh Ali bin Abdullah bin Asir yang berkedudukan sebagai Letnan Arab.

Sebagaimana mertuanya, Hasan Argubi adalah pengikut setia Syeikh Ahmad Surkati dan selalu berada disampingnya hingga akhir hayat ulama besar itu. Ia mendarma-baktikan hidupnya dalam aktivitas dan perjuangan Al-Irsyad di segala medan dan situasi. 

BACA SELENGKAPNYA “Syekh Hasan Argubi”

Membaca Al-Qur’an Waktu Haid

Hukum Membaca Al-Qur’an di Waktu Haid

Oleh: Al-Ustadz Umar Hubeis  (1904-1979)

Al-Ustadz UMAR HUBEISPertanyaan:

“Apakah benar agama Islam melarang wanita yang sedang haid untuk membaca Al-Qur’an?”

Jawab:

Tidak benar Islam melarang wanita yang sedang haid membaca Al-Qur’an. Tak ada satu ayat pun dalam Al-Qur’an yang mengharamkan membaca Al-Qur’an bagi wanita yang tengah haid. Sementara dua hadits yang melarangnya, yaitu yang diriwayatkan dari Ibnu Umar dan Jabir, sanadnya sangat lemah dan tidak bisa dijadikan nash untuk menentukan suatu hukum apalagi hukum tahrim (mengharamkan).

Jadi, perintah dan anjuran Al-Qur’an di surat al-Muzammil ayat ke-20, serta beberapa hadits agar umat Islam membaca Al-Qur’an dan mengajarkannya tetap berlaku (secara umum). Belum ditemukan suatu dalil yang shahih, tegas dan jelas yang mengecualikan wanita haid dari perintah dan anjuran itu, sebagaimana hadits yang mengecualikan mereka (wanita haid) dari kewajiban shalat dan puasa sewaktu haid.
BACA SELENGKAPNYA “Membaca Al-Qur’an Waktu Haid”

Hadits-Hadits Nisfu Sya’ban menurut Abduh dan Rasyid Ridha

Hadits-hadits tentang Malam Nishfu Sya’ban menurut Muhammad Abduh dan M. Rasyid Ridha

Muhammad Abduh
Syekh Muhammad Abduh

Al-Imam Muhammad Abduh berkata, “Apa yang dikatakan kebanyakan orang bahwa yang dimaksud dengan Lailah Mubarakah adalah malam Nishfu Sya’ban, di mana pada malam itu dibagi-bagikan rezeki dan umur, adalah merupakan suatu kelancangan mulut tentang urusan yang ghaib. Tanpa alasan yang tegas dan tandas. Dan kita tidak boleh meng-i’tikadkan sesuatu (yang ghaib) tanpa ada keterangan yang mutawatir dari Rasulullah saw. yang maksum.  Sebab, apa yang seperti tersebut di atas (tentang pembagian rezeki dan umur serta lainnya) tidaklah benar, karena hadits-hadits yang berkenaan dengan itu sangat kacau dan lemah para rawinya dan banyak kebohongannya. Karenanya tidak boleh dipergunakan untuk urusan aqidah dan keimanan.”

Sayyid Muhammad Rasyid Ridha dalam Majalah Al-Manaar, jilid VI, halaman 96 menulis, “Doa Sya’ban yang terkenal itu, tidak diizinkan Allah.”

Beliau menjelaskan pula di Majalah Al-Manar, jilid XIV, halaman 250-256, “Diriwayatkan dalam kitab-kitab Al-Maudlu’at wal Wahiyat Wadli’af, bahwa hadits-hadits yang tidak dapat digunakan sebagai hujjah untuk melakukan ibadah banyak sekali, di antaranya:  shalat malam Raghaib di bulan Rajab dan shalat malam Nisfu Sya’ban. Akan tetapi, syiar Islam yang tak berdasar dan terkenal  ini, yak tidak disebut dalam hadits, telah lama diamalkan umat. Maka, sebagian kalangan ahli fikih dan tasawuf banyak yang tertipu dengan shalat Rajab dan Sya’ban ini, seperti Abi Thalib al-Makky dan Abi Hamid al-Ghazali (Imam Ghazali) yang memiliki kedudukan tinggi. Itu disebabkan oleh kelemahan mereka di dalam ilmu hadits. Para ahli hadits dan fuqaha juga telah menjelaskan kekhilafan dan kekeliruan kedua tokoh ini seperti Imam Nawawi yang merupakan sokoguru pengikut Syafi’i.
BACA SELENGKAPNYA “Hadits-Hadits Nisfu Sya’ban menurut Abduh dan Rasyid Ridha”

Diskusi Ali Ahmad Baktsir, Pejuang Indonesia di Bumi Mesir

Ali Ahmad Baktsir, diskusi Pusdok Bogor 21 April 2018

Pusat Dokumentasi dan Kajian (Pusdok) Al-Irsyad Al-Islamiyyah Bogor telah sukses menggelar diskusi tentang ketokohan Ali Ahmad Baktsir, di Kantor Sekretariat PC Al-Irsyad Bogor, Empang, Kota Bogor, Sabtu 21 April 2018 malam.

Diskusi yang menyedot perhatian puluhan warga Al-Irsyad Bogor dan Jakarta serta masyarakat umum ini diisi oleh nara sumber Nabil Abdul Karim Hayaze, direktur Menara Center, dan Dr. Zeffry Alkatiri dari Fakultas Budaya Universitas Indonesia, dengan dimoderatori oleh Mansyur Alkatiri.

Diskusi yang bertema “Karya Sastra dan Perjuangan Ali Baktsier, Tokoh Dibalik Lahirnya Pengakuan Mesir dan Liga Arab terhadap Kemerdekaan Indonesia” ini merupakan diskusi perdana Pusdok Al-Irsyad Al-Islamiyyah Bogor yang diketuai oleh Abdullah Batarfi.

Topik tentang Ali Baktsir ini diangkat mengingat perannya yang begitu besar dalam proses pengakuan kedaulatan RI oleh negara-negara Arab, bukan hanya Mesir. Dan, seperti dinyatakan oleh Nabil Hayaze, dengan adanya pengakuan itu maka Indonesia secara de jure adalah negara berdaulat. Selain Mesir dan Liga Arab, pengakuan juga datang dari Arab Saudi, Lebanon, Syria, Irak, Yaman dan Afghanistan. Sementara negara-negara Barat baru mengakui kemerdekaan Indonesia setelah 1949, menyusul pengakuan kedaulatan oleh Belanda.
BACA SELENGKAPNYA “Diskusi Ali Ahmad Baktsir, Pejuang Indonesia di Bumi Mesir”

Eksistensi Al-Irsyad Al-Islamiyyah di Jakarta

Madrasah Al-Irsyad Petojo, Jakarta
Madrasah Al-Irsyad Petojo, Jakarta

Eksistensi organisasi Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah (Jam’iyyah Al-Irsyad Al-Islamiyyah) disingkat Al-Irsyad Al-Islamiyyah sangat lekat dan tidak bisa dipisahkan dengan Jakarta, ibukota Republik Indonesia. Sebab, Al-Irsyad Al-Islamiyyah lahir di Jakarta (dulu Batavia) dan dilahirkan oleh warga jamaah Jakarta (Betawi). Ikatan Al-Irsyad dengan Jakarta ini ibarat seperti Muhammadiyah dengan Jogjakarta dan NU dengan Jombang (Jawa Timur), serta Persatuan Islam (Persis) dengan Bandung.

Kelekatan Al-Irsyad dengan Jakarta bisa dilihat dari fakta bahwa kedudukan pengurus pusat atau pengurus besar (hoofdbestuur) Al-Irsyad Al-Islamiyyah selalu berada di Jakarta sejak berdiri sampai sekarang (saat tulisan ini dibuat, 2017). Dari awal berdiri sampai di tahun-tahun awal para ketua dan seluruh pengurusnya juga asli warga Jakarta (Batavia).

Sejarah Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah bermula dari pendirian Madrasah Al-Irsyad Al-Islamiyyah yang pertama, di Jati Petamburan (Batavia) pada 6 September 1914 (15 Syawwal 1332 H). Tanggal ini lalu dijadikan tanggal berdirinya Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah. Namun, pengakuan hukumnya dari pemerintah kolonial Belanda baru keluar pada 11 Agustus 1915.

Syekh Ahmad Surkati, tokoh sentral pendirian Al-Irsyad Al-Islamiyyah
Syekh Ahmad Surkati, tokoh sentral pendirian Al-Irsyad Al-Islamiyyah

Tokoh sentral pendirian Al-Irsyad adalah Al-‘Alamah Syeikh Ahmad Surkati, seorang ulama besar Mekkah yang berasal dari Sudan. Pada mulanya Syekh Ahmad Surkati datang ke Indonesia atas permintaan perkumpulan Jami’at Khair. Namun karena ada perselisihan dalam pemahaman keagamaan, Syekh Ahmad Surkati pun keluar dari Jami’at Khair dan bersama beberapa sahabatnya mendirikan Al-Irsyad. Nama lengkap beliau adalah SYEIKH AHMAD BIN MUHAMMAD AS-SURKATI AL-ANSHARI.
BACA SELENGKAPNYA “Eksistensi Al-Irsyad Al-Islamiyyah di Jakarta”