Shalat Gerhana

SHALAT GERHANA (Bagian 1)

Pengertian Shalat Khusuf dan Kusuf

Oleh: Al-Ustadz Said Thalib al-Hamdani (1903-1983 M)

Kata khusuf dan kusuf dipergunakan untuk istilah gerhana bulan dan gerhana matahari seperti yang terdapat dalam beberapa hadits Rasulullah saw.

Dalam At-Tanzil dikatakan bahwa istilah khusuf itu hanya dipergunakan untuk bulan, sedang kusuf untuk gerhana matahari.

Ibnu Daqiqil ‘Ied berkata, “Orang-orang berselisih faham mengenai kata kusuf dan khusuf. Ada yang mengatakan kalau khusuf itu untuk gerhana matahari sedangkan kusuf itu untuk gerhana bulan. Tetapi ini tidak benar, sebab Allah sendiri telah menggunakan kata khusuf untuk menyebut gerhana bulan. Adapula yang menyebutkan sebaliknya. Lainnya mengatakan bahwa kedua-duanya itu sama artinya.

Perbedaan istilah ini dibuktikan dengan lafad yang terdapat untuk dua macam gerhana. Ada yang mengatakan kalau kusuf berarti lenyapnya seluruh cahaya, sedang khusuf artinya berubah warnanya.[1]

Asy-Syaukani berkata: Kusuf menurut lughah adalah berubah menjadi hitam. Dari kata kusuf timbul istilah berubah muka dan matahari menghilang cahayanya.

Menurut Al-Hafid: Kusuf sering dipergunakan untuk menyebut gerhana matahari, sedang khusuf sering dipergunakan untuk gerhana bulan. Ada pula yang menyebutkan kalau kusuf itu untuk permulaan gerhana, sedang khusuf untuk akhir gerhana. Ada juga yang mengatakan kalau kusuf untuk gerhana penuh, sedang khusuf untuk gerhana yang tidak penuh.[2]

Urwah berkata: Janganlah kamu mengatakan “Kasafatisy Syamsu” tetapi katakanlah “Khasafatisy Syamsu”. Hadits ini mauquf tetapi shahih, diriwayatkan oleh Sa’id bin Marwan dan oleh Muslim dari Yahya bin Yahya.

[1] Syarah Umdatul Ahkam, hal. 135.

[2] Nailul Authar, IV: 14.

SUMBER: Buku “SHALAT-SHALAT SUNNAH” (HSA Al-Hamdani)

BACA JUGA:
Pendapat Syeikh Muhammad Rasyid Ridha tentang Gerhana

Rasyid Ridha tentang Gerhana

Pendapat Syeikh Rasyid Ridha tentang Gerhana

Terjadinya gerhana adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah dan sebagai bukti keagungan-Nya. Maka, sudah sepatutnya peristiwa itu mendorong kita untuk selalu ingat dan taat kepada Allah. Bukankah shalat yang lima waktu juga ditetapkan waktunya berdasarkan peredaran matahari?

Gerhana bukan merupkan bencana atau penyebab malapetaka seperti anggapan kebanyakan orang. Tapi, gerhana adalah termasuk peristiwa alam yang rutin, sebagaimana firman Allah:

الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ

Matahari dan bulan itu beredar menurut aturan.” (ar-Rahman: 5)

Karena itu, terjadinya gerhana dapat diketahui oleh ahli-ahli falak yang dapat juga ditentukan sebelum terjadinya, dan dapat pula dipastikan dengan perhitungan yang cermat, sampai kepada menit dan detiknya. Ahli falak dapat menetapkan penyesuaiannya setiap tahun, apa yang terjadi setiap tahun, lama gerhana, letaknya, dan daerah-daerah yang dapat melihat gerhana. Mereka tidak akan keliru dalam menghitung karena mereka berdasar kepada hisab yang telah ditentukan oleh Allah, dan ia tidak akan keliru. Ahli-ahli falak juga dapat menerangkan apa yang terjadi setelah lewat waktunya beberapa ratus atau beberapa ribu tahun.

(Dikutip dari buku “SHALAT-SHALAT SUNNAT“, karya Al-Ustadz Said Thalib al-Hamdani, hal. 120-121)

Hadits-hadits Al-Mahdi Palsu

Hadits-Hadits tentang Al-Mahdi Palsu

Oleh: Al-Ustadz Umar Hubeis  (1904-1979)

umarhubeis1Pertanyaan:

“Betulkah Imam Mahdi akan muncul di dunia dan apa perannya?”

Jawab:

Khabar tentang Imam Mahdi yang katanya akan muncul di dunia untuk menegakkan keadilan setelah merajalelanya kezaliman dan sebagainya, bersumber dari hadits-hadits yang tidak shahih.

Hadits-hadits tentang Al-Mahdi ini dihimpun oleh Abdullah Muhammad al-Anshari al-Andalusi. Dalam kitab “Mukaddimah” yang ditulis oleh Ibnu Khaldun yang amat terkenal itu dinyatakan bahwa hadits-hadits tersebut dikarang oleh para politisi dari kelompok Syiah dan kelompok lainnya yang berambisi merebut jabatan khalifah.

Ibnu Khaldun menyebutkan, beberapa tokoh Syiah telah menggunakan atau diberi gelar “Al-Mahdi”, diantaranya adalah Muhammad ibnul Hasan al-Askari, yang katanya menghilang ke dalam gua dan kelak akan muncul kembali untuk menegakkan keadilan di dunia serta membawa kemakmuran.
BACA SELENGKAPNYA “Hadits-hadits Al-Mahdi Palsu”

Nabi Khidir dan Al-Mahdi

Nabi Khidir dan Al-Mahdi

Oleh: Ustadz Said Thalib al-Hamdani *

Seorang sufi, Syekh Abdul-Wahhab asy-Sya’rani, dalam kitabnya Al-Anwarul Qudsiyyah menjelaskan bahwa pada waktu berada di antara tidur dan sadar, ia seakan mendengar orang berkata-kata kepadanya. Namun, orang itu hanya dapat didengar suaranya, tidak dapat dilihat orangnya.

Ia (asy-Sya’rani) lalu menerangkan, “Siapakah dia yang berkata-kata itu?  Ketahuilah bahwa yang berkata-kata itu mungkin malaikat, wali, jin yang saleh, AL-KHIDIR as. (Nabi Khidir), dan atau lainnya. Al-Khidir as. masih hidup, tetap ada dan belum mati. Kami telah pernah menemui orang yang menjumpai Al-Khidir dan AL-MAHDI, yang daripada keduanya telah diambil tarekat golongan kami dan seterusnya.”

Dari beberapa kitab karangannya, Asy-Sya’rani kelihatan seperti seorang ahli sufi yang linglung, yang bertindak serampangan. Ia telah mengisi kitab-kitab karangannya dengan berbagai khurafat, kemusyrikan dan kesesatan. Ia telah menyebut-nyebut nama-nama Al-Khidir, Al-Mahdi, jin yang saleh, malaikat dan lain-lainnya.

Padahal telah diketahui bahwa Al-Mahdi itu adalah hanya seorang yang diciptakan oleh khayal politik Persia (lihat Tafsir Al-Manar). Sebenarnya ia (Al-Mahdi, Imam Mahdi) itu tidak berwujud, hanya di nyanyi-nyanyikan oleh golongan Syiah.

BACA SELENGKAPNYA “Nabi Khidir dan Al-Mahdi”

Hukum Ziarah Kubur

Ziarah Kubur Hukumnya Sunnah

Oleh: Al-Ustadz Allamah Syekh Ahmad Surkati (1874-1943 M)

Diambil dari: Majalah Azzakhiratul Islamiyyah No. 2, Safar 1342 H

TANYA:

Bagaimana hukum Ziarah Kubur dalam pandangan agama atau syara’? Apakah sunnah, wajib, mubah, makruh atau haram? (AHMAD SJOEKRI, seorang murid Al-Irsyad School di Batavia yang berasal dari Lampung, pada 8 Zulqaidah 1341)

JAWAB:

Ahmad Surkati 220Hukum ziarah kubur adalah SUNNAH. Itupun apabila ziarah dilakukan untuk merundukkan hati dengan melihat kubur serta ingat akan akhirat. Di samping itu, juga dengan komitmen tidak akan melakukan perbuatan-perbuatan munkar, seperti: meratap, membakar dupa, memasang lampu, meminta syafaat atau barakah dari si mayit, shalat, mendirikan mesjid di atas kubur tersebut, membaca Al-Qur’an, memotong hewan, bernazar, dan perbuatan mungkar lainnya. Semua itu adalah perbuatan munkar, hanya saja tingkatannya ada yang makruh, ada yang haram, serta ada pula yang syirik dan jelas-jelas kufur.

Di atas disebutkan bahwa ziarah kubur yang terbebas dari segala perbuatan munkar hukumnya adalah sunnah, hal ini didasarkan sabda Nabi saw seperti yang dirawikan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya dari Zaid bin Sabit sebagai berikut:
BACA SELENGKAPNYA “Hukum Ziarah Kubur”

Niat Shalat

Hukum Melafazkan Niat Shalat

Oleh: Syeikh Ahmad Surkati (1874-1943 M)

Diambil dari: Majalah Azzakhiratul Islamiyyah No. 1, Muharram 1342 H

TANYA:

Apakah niat itu harus diniatkan sebelum takbiratul ihram, sesudahnya, atau ketika mau takbir? Niat itu perlu diucapkan dengan lisan atau tidak? Wajibkah niat dan takbir diucapkan bersamaan dengan lisan dan hati seperti kata kebanyakan orang yang menyatakan: nawaitu ushalli fardhudzuhri ada-an lillahi taala lantas mengucapkan: Allahu Akbar (AHMAD SJOEKRI, murid Al-Irsyad School di Batavia yang berasal dari Lampung, pada 8 Zulqaidah 1341)

JAWAB:

Syekh Ahmad Surkati
Syekh Ahmad Surkati

Tentang niat dalam melakukan ibadah shalat hukumnya adalah wajib, sebab merupakan salah satu rukun sahnya shalat. Seseorang yang melakukan tanpa didahului degan niat, maka dianggap dia tidak shalat. Tidak mungkin terjadi seseorang yang berakal sehat melakukan sesuatu perbuatan dengan tidak mempunyai maksud, kecuali ia tidur, sakit atau mabuk, gila dan sebagainya.

Orang yang shalat karena Allah (bukan karena riya), dan dikerjakan sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan, berkhusyuk kepada Allah dan pada waktu yang ditentukan, maka pahalanya pun dari Allah. Namun, jika untuk mendapat pujian orang (riya), meskipun shalatnya dilakukan dengan sempurna, tidak akan terbilang sebagai shalat yang sejati. Bagi si pelakunya bukan saja tidak mendapat pahala bahkan mendapat siksa.
BACA SELENGKAPNYA “Niat Shalat”

Universitas Al-Irsyad di Solo

Universitas Al-Irsjad

Oleh: Abdullah Munif

Dari: Majalah GELORA AL-IRSJAD, No. 7, Syawwal 1385 H (Februari 1966), Edisi Idul Fitri
Diterbitkan oleh: Sekpen Pemuda & Peladjar Al-Irsjad Bogor

Pergerakan Al-Irsjad didirikan dan dipelopori perdjuangannja oleh Alm. Pendekar Islam Al-Muslih Al-Imam Ahmad Assoorkaty Alanshary pada tahun 1914 di Indonesia.

Garis-garis perdjuangannja didasarkan atas prinsip-prinsip Islam melalui sumbernja jang pertama: Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah, dan tidak sedikit telah memberikan sumbangan idiel dan potensiel kepada Revolusi Indonesia di mana pertumbuhannja, terutama di bidang mental spiritual.

Al-Irsjad adalah Pergerakan reformasi dan modernisasi Islam jang revolusioner di Indonesia.

Dalam bidang pendidikan/pengadjaran sudah banjak usaha dan hasilnya jang dapat diketjap oleh masjarakat, dan sudah banjak menelorkan kader-kader jang militan, jang sebagian mendjadi tokoh-tokoh di Indonesia maupun du luar negeri.

Djadi dapatlah kita fahami pentingnja fungsi pendidikan/pengadjaran; sebab ia merupakan salah satu media jang ditempuh Al-Irsjad untuk mentjapai tjita-tjita dan tudjuan-nja. Dimana pendidikan/pengadjaran jang diselenggarakannja bernafaskan atau sesuai dengan tuntunan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah.
BACA SELENGKAPNYA “Universitas Al-Irsyad di Solo”

Debat Surkati dan Semaun

Debat Ahmad Surkati dan Semaun di Kongres Al-Islam

Syekh Ahmad Surkati
SYEKH AHMAD SURKATI

Di sela-sela Kongres Al-Islam I di Cirebon pada 1922, Syekh Ahmad Surkati, tokoh sentral pendiri Jum’iyyah (Perhimpunan) Al-Irsyad Al-Islamiyyah, mengadakan debat terbuka dengan Semaun, pemimpin Sarekat Islam Merah (komunis) kelahiran Mojokerto. Semaun di damping oleh sahabatnya, Hasan dari Semarang dan Sanusi dari Bandung. Sementara Syekh Surkati didampingi oleh Abdullah Badjerei (Jakarta) dan Umar Naji Baraba (Bogor).

Topik debat itu sekitar masalah Pan-Islamisme dan Komunisme, yaitu: Islam atau Komunisme yang bisa membebaskan negeri ini dari penjajahan?

Sebagai penganut Pan Islam, Surkati tentu saja berusaha meyakinkan Semaun, bahwa hanya dengan Islam dan persatuan Dunia Islam, negeri Indonesia ini bisa dimerdekakan. Sedangkan Semaun berpendapat bahwa komunisme lah yang mampu menghadapi kolonialisme Belanda. Dua jam lebih perdebatan itu berlangsung, namun tidak ada titik temu di antara mereka.
BACA SELENGKAPNYA “Debat Surkati dan Semaun”

Al-Irsyad di Indonesia

Perhimpunan Al-Irsyad di Indonesia

Oleh: Hamid Al-Anshari

SYEKH AHMAD SURKATI AL-ANSHARI
SYEKH AHMAD SURKATI AL-ANSHARI

Al-Irsyad adalah suatu pergerakan reformasi dan modernisasi Islam yang mengutamakan dakwah Islamiyah, dan bergerak terutama di bidang pendidikan dengan membawa faham baru dalam pengajaran Islam dan sosial-pedagogis berdasarkan Qur’an dan Hadits, yang dipelopori oleh Syekh Ahmad bin Muhammad Surkati Al-Anshari, seorang tokoh perintis, seorang ulama intelek yang bergelar “Syekh Al-Allamah” dari perguruan tinggi bergengsi di negeri Mekkah.

Beliau seorang tokoh Islam yang penuh semangat aktivisme, dari sejak sebelum berdirinya pergerakan Al-Irsyad. Beliau ini penyambung lidah masjarakat, yang sumber penghidupannya tidak tergantung kepada tangga birokrasi (feudal hierarchie) dari pemerintahan kolonial. Bahkan, beliau itu salah seorang yang tak segan-segan membentangkan perkara yang hak dan kebenaran, sebagaimana yang telah diucapkan oleh beliau dengan tegas, dalam suatu upacara jang dihadiri oleh pembesar-pembesar Belanda antara lain sebagai berikut:

“Ada beberapa orang yang menuduh kepada diri saya, bahwa saya ini memihak kepada Belanda. Sungguh, saya katakan terus terang di sini, saya ini tidak sekali-kali berpihak kepada orang-orang Belanda. Bahkan, saya ini sebagai seorang Muslim, lebih suka kepada saudara-saudaraku kaum Muslimin, kemudian kepada orang-orang Timur.”

Dan selain dari itu, beliau sering menyatakan kepada beberapa pembesar Belanda bahwa beliau selama hidupnya selalu menjauh dari orang-orang Eropa.

BACA SELENGKAPNYA “Al-Irsyad di Indonesia”

Puasa Syawal, Sunnah atau Bid’ah

Puasa Syawwal, Sunnah atau Bid’ah?

Oleh: Al-Ustadz Umar Hubeis  (1904-1979)

umarhubeis1Pertanyaan:

“Apa hukum puasa Syawal yang enam hari itu? Wajib, sunnah, atau malah bid’ah? Bagaimana pula bila puasa itu dilakukan secara berturut-turut (mutatabi’) selama enam hari?

Jawaban:

Umat Islam di Indonesia menganggap puasa enam hari pada bulan Syawal sesudah berlalunya bulan Ramadhan itu adalah sunnah muakkadah, karena puasa wajib itu hanya di bulan Ramadhan saja. Alasan mereka adalah sebuah hadits Nabi saw. berikut.

Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan dan diikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka seakan-akan dia puasa dahr.” (HR. Muslim)

Puasa dahr adalah puasa tiap hari atau tiap dua hari sekali. Perhitungannya adalah: 30 hari Ramadhan ditambah 6 hari Syawal = 36 hari x 10 kali pahala = 360, yaitu jumlah hari dalam setahun.

BACA SELENGKAPNYA “Puasa Syawal, Sunnah atau Bid’ah”