TAFSIR AL-FATIHAH, Rasyid Ridha – Ayat 5

Rasyid Ridha RepublikaOleh: Syekh Muhammad Rasyid Ridha (1865-1935)

Ulama besar pelopor pembaruan Islam, sahabat dan guru ideologis Syekh Ahmad Surkati, tokoh sentral Al-Irsyad A-Islamiyyah. Syekh Rasyid Ridha adalah murid utama Syekh Muhammad ‘Abduh di Mesir.

Tafsir Ayat Kelima: Beribadah dan Memohon Pertolongan Allah  

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ

Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” (QS Al-Fâtiẖah: 5)

Ustadz Muhammad ‘Abduh pernah bertanya, “Apakah ibadah itu? Sebagian mahasiswanya menjawab, “Ibadah adalah taat sepenuh hati.” Sebagian yang lain menambahkan, “Mengagungkan dan mencintai Allah.”

Masing-masing pengertian di atas tidak menggambarkan makna ibadah secara substansial. Pengertian itu masih menimbulkan penafsiran lain. Sering kali orang menjelaskan suatu objek hanya melalui ciri-cirinya sehingga substansinya tidak tersentuh. Bahkan, kadang-kadang mereka hanya mengemukakan definisi secara etimologis. Penjelasan yang diberikan atas substansi tersebut hanya berdasarkan makna yang agak mendekati.

Seperti itulah pengertian mereka terhadap ibadah. Pengertian yang mereka berikan terlalu global dan cenderung serampangan. Jika menelusuri ayat-ayat Al-Qur’an, struktur bahasa, dan bagaimana orang Arab menggunakan kata ‘abada dan kata-kata serupa, seperti khadha’a, khana’a, athâ’a, dan dzalla, kita akan menemukan bahwa tidak ada satu pun di antara kata-kata itu yang semakna dengan kata ‘abada hingga dapat dipadankan. Sehubungan dengan hal ini, ada sebagian orang yang menyatakan bahwa kata ‘ibâd diambil dari akar kata ‘ibâdah. Kata ini kebanyakan dihubungkan kepada Allah SWT. Sedangkan, kata ‘abîd kebanyakan dihubungkan kepada selain Allah SWT. Sebab, ia diambil dari akar kata ‘ubûdiyyah (perbudakan). Karena itu, kata ‘ibâdah dan ‘ubûdiyyah berbeda. Padahal, akar kedua kata tersebut sama.

Ada sebagian ulama mengatakan bahwa dalam kajian bahasa, kata ‘ibâdah hanya digunakan untuk Allah SWT. tetapi, dalam Al-Qur’an terdapat bukti sebaliknya.

Seseorang yang sedang dimabuk cinta akan sangat mengagungkan kekasihnya. Sampai-sampai, keinginannya bersatu dengan kekasihnya melebur dalam kehendak kekasihnya. Keadaan semacam ini tidak dinamakan ‘ibâdah. Banyak orang yang berlebihan dalam mengagungkan para pemimpin , para raja, dan para amir. Namun, Anda melihat ketundukan dan ketaatan mereka tidak sama dengan ketundukan para ahli ibadah (mutaẖannitsîn) yang taat. Bahkan, seluruh hamba sahaya, tidak satu pun yang ketundukannya kepada tuannya disebut ‘ibâdah. Kalau begitu, apa hakikat ibadah itu?

Menurut struuktur bahasa yang benar dan penuturan orang Arab yang fasih, ‘ibâdah adalah sejenis ketundukan puncak seseorang yang muncul dari hatinya. Ketundukan ini timbul akibat hati yang merasakan keagungan Tuhan yang tidak diketahui dari mana asalnya dan meyakini kekuasaannya yang substansinya tidak dapat diketahui. Hati hanya merasakan keagungan dan kekuasaan itu ada di sekitar dirinya tetapi di luar jangkauan pengetahuannya.

Menilik pengertian di atas, dikatakan bahwa orang yang menundukkan diri sedemikian rupa sampai titik terendah di hadapan seorang raja tidak dapat disebut penyembah, sekalipun, ia sampai mencium ujung kakinya. Hal ini disebabkan alasan ketundukannya dapat diketahui dengan mudah, yaitu takut dianiaya atau berharap mendapatkan keuntungan.

Memang, ada sebagian orang yang meyakini bahwa kerajaan adalah kekuatan sakral dari langit yang diberikan kepada kalangan bangsawan. Tuhan memilih mereka sebagai orang yang derajatnya lebih tinggi diibandingkan manusia lain. Sebab, mereka adalah manusia yang paling suci dan mulia. Keyakinan semacam ini menyeret para penganutnya pada kekafiran dan ateis (ilẖâd). Malah, mereka menjadikan raja-raja itu sebagai tuhan dan menyembahnya secara sungguh-sungguh.

Setiap agama memiliki bentuk ibadah masing-masing yang disyariatkan untuk mengingatkan manusia pada kekuasaan Tuhan Yang Mahatinggi. Meyakini Tuhan sebagai Penguasa tertinggi merupakan ruh dan inti ibadah.

Setiap ibadah yang benar dapat memberikan dampak positif pada pembentukan akhlak dan pendidikan jiwa. Dampak itu hanya muncul dari jiwa dan nurani yang menumbuhkan pengagungan dan ketundukan. Apabila ibadah tidak menghasilkan pengagungan dan ketundukan, ia bukanlah ibadah yang hakiki. Hal ini seperti gambar dan patung manusia yang bukan manusia sesungguhnya.

Contoh yang lain adalah ibadah shalat. Perhatikan bagaimana Allah menyuruh manusia untuk menegakkannya, tidak sekadar melaksanakan. Menegakkan sesuatu adalah melaksanakannya secara sempurna berdasarkan alasan yang tepat dan berefek. Efek shalat adalah seperti yang diberitakan Allah SWT dalam firman-Nya,

اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ

Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS Al-Ankabut -29: 45)

 اِنَّ الْاِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعًا . اِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوْعًا . وَّاِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوْعًا اِلَّا الْمُصَلِّيْنَ

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah. Dan, apabila mendapatkan kebaikan, ia amat kikir kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat.” (QS Al-Ma’arij-70: 19-22)

Allah Ta’ala menegur orang-orang yang melakukan gerakan-gerakan dan ucapan-ucapan shalat tetapi melalaikan arti dan rahasia ibadahnya yang mengantarkan pada tujuannya. Perhatikan firman-Nya,

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَ , الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَ , الَّذِيْنَ هُمْ يُرَاۤءُوْنَ , وَيَمْنَعُوْنَ لْمَاعُوْنَ

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (QS Al-Ma‘un-107: 4-7)

Allah tetap menyebut mereka sebagai “orang-orang yang shalat” (mushallîn) karena mereka melakukan gerakan-gerakan shalat. Namun, dia menyifati mereka sebagai orang-orang yang lalai dari shalat yang hakiki, yaitu menyertakan hati dalam menghadap Allah yang mengingatkannya pada keharusan takwa kepada-Nya dan mengakui keagungan-Nya. Kemudian, Dia menyebutkan dampak dari kelalaian ini, yaitu riya’ dan enggan menolong orang lain.

Ustadz Muhammad ‘Abduh membagi riya’ pada dua jenis. Pertama, riya’ karena munafik, yaitu mengerjakan suatu amal karena ingin dilihat orang lain. Kedua, riya’ karena kebiasaan, yaitu mengerjakan suatu amal sesuai dengan hukumnya, tetapi tidak meresapi makna, rahasia, dan faedah amal itu sendiri, serta tidak memerhatikan Zat yang dituju dan didekati melalui amal itu. Itulah riya’ yang dilakukan oleh kebanyakan orang. Misalnya, shalat yang dilakukan karena faktor kebiasaan yang diterapkan oleh orang tua sejak masa kanak-kanak. Kontinuitas shalat mereka hanya disebabkan oleh kebiasaan, dan mereka tidak memahami hakikat shalatnya. Tidak ada yang sedikitpun dipersembahkan bagi Allah dalam shalatnya. Dalam bberapa hadits dinyatakan,

Barang siapa shalatnya tidak mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar. Ia tidak bernilai apa-apa selain semakin menjauhkan dirinya dari Allah.” (HR Al-Thabrani dari Ibn Abbas ra)

Shalat sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas adalah sekadar penutup diri. Ia seperti baju yang dipakai menutupi badan dan menyelematkan muka. Sementara itu, al-mâ’ûn (dalam ayat di atas) adalah pertolongan dan kebaikan. Dalam ayat lain disebutkan bahwa manusia pada dasarnya bersifat kikir kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat.

Makna al-isti’ânah (masdar –kata kerja perbendaan dari kata nasta’în pada ayat ke-5) adalah permohonan tolong agar dihilangkan kelemahan dan permohonan bantuan untuk kesempurnaan pekerjaan yang tidak dapat dapat dikerjakan sendiri.

Selanjutnya, Ustadz Muhammad ‘Abduh memberikan penjelasan tentang pengkhususan ibadah dan permintaan tolong kepada allah yang dalam ayat itu ditunjukkan dengan mendahulukan objek (iyyâka) sebelum kata subjek dan predikat (na’budu dan nasta’în). Dia menjelaskan sebagai berikut.

Allah Ta’ala memerintahkan kepada kita agar beribadah hanya kepada-Nya. Sebab, kekuatan gaib yang berada di balik segala realitas hanya milik-Nya, bukan milik yang lain. Tidak ada seorang pun yang dapat menandinginya dalam hal itu. Maka, pantaslah Dia diagungkan dengan cara disembah.

Allah Ta’ala juga memerintahkan kepada kita untuk memohon pertolongan hanya kepada-Nya. Pernyataan ini, tampaknya, membutuhkan penjelasan. Sebab, dalam ayat lain kita disuruh untuk tolong-menolong.

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰى

Dan, tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa.” (QS Al-Mâ-‘idah: 2)

Dengan demikian, bagaimana duduk perkara yang sebenarnya? Di satu sisi kita tidak boleh meminta pertolongan selain kepada-Nya. Namun, di sisi lain kita diperintah untuk saling menolong. Jawabannya sebagai berikut.

Keberhasilan setiap pekerjaan yang dilakukan oleh manusia bergantung pada sarana yang tersedia dan rintangan yang harus disingkirkan. Kedua hal ini merupakan keadilan ilahi. Allah memberi kekuatan kepada manusia berupa ilmu dan kemampuan untuk menyingkirkan sebagian rintangan dan menyediakan sebagian sarana. Namun, ada sebagian sarana lain yang hanya dapat dipenuhi oleh orang lain. Kita wajib bekerja secara maksimal, mencurahkan segenap kekuatan untuk menyempurnakan pekerjaan, dan satu sama lain di antara kita saling menolong untuk mewujudkan pekerjaan itu. Sesuatu yang tidak sanggup dikerjakan, kita serahkan semuanya kepada Yang Mahakuasa atas segalanya. Kita sandarkan kepada-Nya. Kita mohonkan agar Allah menyempurnakan amal kita. Kita tidak boleh meminta kepada selain-Nya. Sebab, tidak ada yang dapat mengendalikan sesuatu di luar wasilah yang diberikan kepada setiap manusia selain yang menciptakannya.

Kalimat wa iyyâka nasta’in (dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan) adalah penyempurna kalimat, iyyâka na’budu (hanya kepada-Mu kami beribadah). Memohon pertolongan kepada Allah SWT berarti mengaitkan hati dan menggantungkan jiwa kepada-Nya. Itulah salah satu inti sari ibadah. Oleh sebab itu, mengaitkan hati dan jiwa kepada selain Allah SWT adalah salah satu bentuk penghambaan pada berhala yang telah berlangsung sejak zaman dahulu.

Wa iyyâka nasta’in disebutkan secara khusus. Hal ini agar orang-orang tidak merasa ragu bahwa memohon pertolongan atau bantuan kepada orang lain untuk mengerjakan urusan yang sanggup dikerjakan oleh manusia adalah salah satu bentuk ikhtiar yang dianjurkan. Kedudukan orang lain itu sekadar alat. Ini berbeda dengan memohon bantuan untuk mengerjakan hal-hal yang berada di luar kemampuan manusia dan di luar jangkauan sebab-sebabnya (asbâb). Misalnya, memohon bantuan untuk menyembuhkan sakit dengan sesuatu selain pengobatan dan terapi. Atau, memohon bantuan untuk mengalahkan musuh dengan sesuatu di luar strategi dan persenjataan. Hal demikian adalah salah satu perkara yang tidak boleh dimintakan selain kepada Allah, Pemilik kekuatan agung. Sebab, tidak ada satu kekuatan pun di alam ini yang sanggup mewujudkannya.

Masalah ini diperjelas oleh Ustadz Muhammad ‘Abduh dengan mencontohkan seorang petani. Ia mencurahkan segenap kemampuannya untuk membajak, menyiram, serta memupuk tanah dan tanamannya. Lalu, ia memohon bantuan Allah untuk menyempurnakan prosesnya dengan menghindarkan segala hama dan gangguan, baik dari udara maupun dari dalam tanah. Contoh lain, seorang pedagang. Ia memilih barang secara cermat dan menjualnya dengan cekatan. Setelah itu, ia bertawakal kepada Allah untuk proses selanjutnya.

Sehubungan dengan itu, lanjut Ustadz Muhammad ‘Abduh, orang-orang yang memohon pertolongan kepada para penghuni kubur agar dapat mencukupi segala kebutuhan, memudahkan segala urusan, menyembuhkan sakit, menyuburkan pertanian, mengalahkan musuh, dan sebagainya adalah orang-orang yang tersesat dari jalan tauhid dan berpaling dari dzikrullâh (mengingat Allah).

Kalimat ringkas ini (iyyâka na’budu) mengajarkan dua hal besar kepada kita. Kedua hal tersebut merupakan sebab turunnya kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Pertama, kita harus mengerjakan amal-amal yang bermanfaat dan berusaha sekuat tenaga menyempurnakannya. Sebab, seseorang tidak akan meminta pertolongan kecuali setelah ia mengerahkan segenap kekuatan untuk melakukan sesuatu. Ketika belum berhasil atau takut tidak berhasil, ia pun memohon pertolongan untuk menyempurnakan usahanya. seseorang memegang pensil. Tiba-tiba pensilnya jatuh ke atas meja. Tentu saja ia tidak akan meminta bantuan orang lain untuk mengambilnya. Sementara, seseorang yang tertimbun benda berat hingga ia tidak sanggup berdiri sendiri pasti akan meminta tolong kepada orang lain untuk mengangkatnya. Permintaan tolongnya itu dilakukan setelah berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari timbunan benda itu. Pelajaran pertama ini merupakan tangga menuju kebahagiaan duniawi dan ukhrawi.

Kedua, kita wajib mengkhususkan permohonan bantuan kepada Allah SWT setelah berusaha dan menyempurnakan usaha. Inilah ruh agama dan kesempurnaan tauhid yang murni. Inilah yang akan meninggikan derajat jiwa-jiwa orang yang bertauhid, memerdekakan mereka dari perbudakan, membebaskan mereka dari penjara para pemimpin agama dan ulama-ulama pendusta, serta melepaskan cita-cita mereka dari ikatan para pengawas palsu, baik yang masih hidup maupun yang telah mati. Dengan demikian, seorang Mukmin, di hadapan manusia lain, menjadi manusia yang bebas dan tuan yang mulia, sementara di hadapan Allah ia menjadi hamba yang tunduk patuh:

وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَه فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

Barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, sungguh ia akan mendapatkan kebahagiaan yang sangat besar.” (QS Al-Ahzab -33: 71)

Saya berpendapat bahwa beribadah kepada Allah SWT adalah bentuk syukur tertinggi dalam rangka memenuhi hak ketuhanan-Nya (ulûhiyyah). Adapun memohon pertolongan kepada-Nya merupakan bentuk syukur tertinggi  dalam memenuhi hak pemeliharaan-Nya (rubûbiyyah). Yang pertama, ibadah, jelas harus dipenuhi karena Dialah Tuhan yang Haqq. Tidak ada yang berhak disembah selain Dia. Sementara yang kedua, permohonan, harus dipenuhi karena Dial ah Tuhan yang memelihara semua hamba. Dia menganugerahkan kepada kita fasilitas yang menyempurnakan perkembangan fisik dan mental kita.

Sesuai dengan hal di atas, kita mengetahui bahwa penempatan kata ‘ibâdah (beribadah) dan isti’ânah (memohon pertolongan) setelah kata Allah dan Rabb bukan semata pertimbangan keserasian prosa. Namun, ia memiliki makna yang sangat dalam sebagaimana disebutkan di atas.

Dilihat dari konteksnya, isti’ânah (meminta tolong) semakna dengan tawakal kepada Allah. Ia merupakan wujud kesempurnaan tauhid dan ibadah yang murni. Oleh sebab itu, kadang-kadang Al-Qur’an menggabungkan kedua kata itu seperti dalam ayat,

وَلِلّٰهِ غَيْبُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاِلَيْهِ يُرْجَعُ الْاَمْرُ كُلُّه فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ

Dan, milik Allah-lah rahasia langit dan bumi. Dan, hanya kepada-Nya seluruh urusan kembali. Maka, sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya.” (QS Huud -11: 123)

Permohonan pertolongan (isti’ânah) adalah buah dari tauhid dan ibadah yang hanya dipersembahkan untuk Allah SWT. Hal ini sejalan dengan salah satu pengertian ibadah, yaitu menyadari bahwa kekuatan gaib di luar sarana-sarana biasa yang diberikan kepada seluruh hamba hanya milik Allah Ta’ala. Makna ini diisyaratkan oleh ayat yang menyandingkan ibadah dengan tawakal di atas.

Orang yang bertauhid secara murni tidak akan meminta bantuan kepada selain Allah untuk mengatasi urusannya. Adapun meminta bantuan yang sifatnya menunjang kemurnian tauhid akan ia lakukan. Sebab, ia diperintahkan oleh Allah SWT untuk melakukannya. Namun, hal itu harus ia nyatakan dengan niat yang melibatkan kesaksian hati (bahwa meminta pertolongan itu semata menunaikan perintah Allah). Untuk urusan yang tidak termasuk dalam wilayah penunjang (wasîlah), ia hanya diperkenankan meminta bantuan kepada Allah secara langsung tanpa perantara.

Berdasarkan penjelasan di atas, kita tahu bahwa sama sekali tidak ada pertentangan antara tauhid dan tawakal dengan mengerjakan tindakan yang menunjangnya serta mengikuti hukum alam (sunnatullâh). Bahkan, apabila ingin sempurna, tauhid dan tawakal mesti dipadukan.

Ada sebuah perumpamaan. Seorang raja biasa menyediakan makan untuk para hamba dan pelayannya pada pagi dan sore hari. Ia menyuruh pelayannya untuk mengurus hidangan makannya. Makanan yang disediakan itu tidak diminta secara langsung oleh sang raja kecuali untuk hidangan tertentu. Meski demikian, para pelayan dan hamba raja itu tidak pernah lupa untuk memuji dan berterima kasih kepada raja yang telah berbaik hati mengeluarkan hartanya dan menyuruh si pelayan untuk menyiapkan makanan itu.

Makna perumpamaan di atas adalah seorang budak yang membutuhkan sesuatu yang tidak diberikan tuannya setiap saat, pasti akan meminta hanya kepada tuannya, tidak kepada yang lain. Jika ia memintanya kepada orang lain, itu menandakan dirinya bodoh dan tidak percaya kepada tuannya. Bahkan, ia telah menempatkan orang lain sejajar atau lebih baik daripada tuannya.

Paparan di atas adalah masalah budak berhadapan dengan majikannya yang memang masih memiliki bandingan. Bagaimana kalau seorang hamba berpaling dari Allah untuk menghadap kepada yang lain. Padahal, tidak ada yang sebanding dengan Allah. Hamba ini hanya akan menemukan makhluk yang sama dengan dirinya sendiri, yaitu mereka yang masih membutuhkan Tuhan pelindung.

Selanjutnya, kata al-isti’ânah mengajarkan secara implisit bahwa seorang hamba harus memohon agar Allah membantunya dalam melaksanakan pekerjaan yang tengah dilakukan. Dari sudut pandang lain, kata ini bisa bermakna penghargaan dari Allah terhadap manusia. Maksudnya, amal manusia dijadikan oleh Allah sebagai dasar mewujudkan apa yang ia inginkan dalam rangka mendidik dan membersihkan jiwa. Selain itu, kata tersebut mengingatkan bahwa meninggalkan usaha tidak sesuai dengan fitrah dan bukan ajaran syariat. Orang yang tidak mau berusaha adalah orang malas yang tercela. Ia bukan manusia yang bertawakal dan terpuji.

Di sisi lain, kata al-isti’ânah mengingatkan pada kelemahan manusia. Manusia tidak boleh tertipu oleh persepsi keliru, yaitu menyangka bahwa usahanya telah cukup baginya sehingga tidak perlu pertolongan Tuhan. Apabila punya sangkaan demikian, ia akan menjadi orang celaka.

Jika hal di atas Anda renungkan, Anda pasti memahami rahasia pendahuluan kata ‘ibâdah sebelum kata al-isti’ânah. Rahasia yang dimaksud adalah isti’ânah (pertolongan Allah) merupakan buah dari ‘ibâdah (penyembahan kepada-Nya). Hal ini tidak berarti bahwa agar ibadah terlaksana sesuai dengan kehendak Allah, ia harus disertai dengan memohon pertolongan kepada Allah. Ibarat buah sebuah pohon, pertolongan Allah akan menumbuhkan pohon-pohon ibadah yang lain. Ibadah, di satu sisi, menjadi sebab turunnya pertolongan. Sedangkan, di sisi lain pertolongan merupakan sebab munculnya ibadah. Sama halnya dengan amal kebaikan. Amal membentuk akhlak seseorang. Di sisi lain, akhlak adalah sumber berbagai amal. Keduanya berposisi sebagai sebab dan akibat. Namun, hal itu jika ditilik dari sudut pandang yang berbeda.

Saya katakan bahwa rahasia pendahuluan frasa iyyâka sebelum kata kerja na’budu dan nasta’în adalah untuk memberikan pengertian makna khusus. Dengan demikian, makna ayat tersebut adalah , “Kami hanya menyembah-Mu, tidak menyembah yang lain. Kami hanya memohon pertolongan kepada-Mu, tidak kepada yang lain.”

Sebagian ulama yang mendalami masalah ini mengungkapkan rahasia lain. Pertama, kata ganti ka (Engkau) dalam iyyâka kembali kepada Allah. Sedangkan iyyâ adalah kata benda yang disandarkan pada kata ganti ka di atas. Pendahuluan frasa iyyâka sampai dua kali menunjukkan bahwa yang didahulukan ini adalah hal yang sangat penting. Inilah alasan mendasar pertama, dalam tata bahasa Arab, tentang objek yang didahulukan sebelum subjek dan predikatnya. Alasan kedua adalah pertimbangan muatan sastra. Alasan ketiga, memberikan makna khusus (ẖashr) dengan mendahulukan objek, baik kata benda (al-ism) maupun kata ganti (al-dhamîr).

Pola pendahuluan objek sebagaimana dalam alasan ketiga lebih tegas daripada menggunakan struktur biasa yang diberi tambahan kata yang menunjukkan pembatasan makna, seperti innamâ na’buduka dan innamâ nasta’înuhu (menambahkan kata innamâ) atau nasta’înu bika waẖdaka (menambahkan kata waẖdaka). Pengulangan kata iyyâka sebelum kata kerja kedua (nasta’în) menunjukkan bahwa ‘ibâdah dan isti’ânah  masing-masing memiliki makna sendiri-sendiri. Satu sama lain tidak saling bergantungan (secara semantik). Hal demikian juga karena memohon pertolongan (isti’ânah) wajib dilakukan untuk semua hal.

Ada sebagian manusia yang tidak memohon pertolongan kepada Allah untuk pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya ikhtiar. Mereka mengira dapat melakukannya sendiri tanpa bantuan khusus dari Allah SWT. hal ini dipegang oleh penganut Qadariyyah.

Memohon pertolongan sangat tepat dilakukan dalam keadaan ketaatan dan kebaikan. Suatu hari Nabi saw. memegang tangan Mu’adz dan berkata,

Demi Allah, aku sangat mencintaimu. Aku wasiatkan kepadamu, wahai Mu’adz, agar setelah shalat engkau tidak melewatkan doa:

اَللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Allâhumma a’innî ‘alâ dzikrika wa syukrika wa ẖusni ‘ibâdatika (Ya Allah, tolonglah aku untuk berzikir kepada-Mu, mensyukuri-Mu, dan menyembah-Mu dengan baik).”

Makna hadits ini kami riwayatkan dalam Al-Aẖâdîts Al-Musalsalah (hadits-hadits yang sanadnya tersambung).

Guru saya, Abu Al-Mahasin Muhammad Al-Qawaqihi, berkata kepada saya ketika kami berada di Nablus, Palestina, “Sesungguhnya aku mencintaimu. Bacalah selalu olehmu: Allâhumma a’innî ‘alâ dzikrika wa syukrika wa ẖusni ‘ibâdatika (Ya Allah, tolonglah aku untuk berzikir kepada-Mu, mensyukuri-Mu, dan menyembah-Mu dengan baik).” Guru saya, Muhammad ‘Abid Al-Sanadi, juga menyatakan hal yang sama kepada saya di Masjid Nabawi. Selain itu, beliau menyebutkan sanad doa tersebut sampai kepada Nabi saw. *

SUMBER: Diambil dari buku TAFSIR AL-FATIHAH, Menemukan Hakikat Ibadah; Muhammad Rasyid Ridha; Penerjemah: Tiar Anwar Bachtiar; Penerbit: Al-Bayan (2005). Terjemahan dari karya asli beliau: Tafsir Al-Fatihah wa Sittu Suwar min Khawatim Al-Qur’an, terbitan Al-Zahra li al-I’lam al-‘Arabi, Kairo.

BACA JUGA:
TAFSIR AL-FATIHAH, Rasyid Ridha – Ayat ke-4: Hakikat Hari Pembalasan
TAFSIR AL-FATIHAH, Rasyid Ridha – Ayat ke-3: Memahami Rahmat Allah
TAFSIR AL-FATIHAH, Rasyid Ridha – Ayat ke-2: Makna Hamdalah 

2 thoughts on “TAFSIR AL-FATIHAH, Rasyid Ridha – Ayat 5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>