Dokter Rohani

surkati1Oleh: Syekh Al-Allamah Ahmad Surkati Al-Anshari (1875-1943)

Ulama besar, ahli hadits, dan Pembaharu Islam di Indonesia. Guru dari para ulama modernis dan banyak pejuang kemerdekaan negeri ini.

Sebagaimana tubuh manusia yang sering kali perlu dioperasi untuk menyembuhkan suatu penyakit yang ada di dalamnya, demikian juga dengan rohani kita, pun perlu diobati kalau sakit. Dan, apabila penyakitnya sukar disembuhkan maka harus dilakukan pengobatan dengan cara yang hampir sama dengan operasi itu. Namun, apabila umat tidak memahami maksud sang dokter, maka mereka akan menyangka si dokter itu sebagai musuh, padahal ia justeru mendukungnya dan akan menyelamatkan mereka dari azab penyakitnya itu.

Berapa banyak dokter yang dimaki dan dipukul ketika sedang mengobati anak kecil atau orang gila. Hal yang sama juga dialami para nabi zaman dahulu yang sering dinista dan disiksa tatkala menyeru umatnya ke jalan yang lurus. Yang demikian itu memang merupakan sunatullah untuk para hambanya.

Seperti halnya dokter fisik yang kadang melakukan kesalahan yang tidak disengaja, para dokter rohani juga bisa keliru meski keduanya cukup teliti dalam melaksanakan pekerjaannya. Namun, apabila si dokter rohani itu melakukan suatu kesalahan maka ia akan tetap memperoleh satu ganjaran pahala, dan apabila dilakukan dengan benar maka ia akan mendapatkan dua pahala. Demikianlah menurut tutur Rasulullah saw.


Karena itu, para dokter rohani seperti para pendidik, penulis, pemberi nasihat, ahli hikmat dan lainnya hendaknya bekerja sesuai dengan perintah Allah. Berupaya  semaksimal mungkin untuk memperoleh keberhasilan, sabar dalam upayanya, lemah lembut dalam usaha dakwahnya, apapun hasil yang akan diperolehnya: keberhasilan atau kegagalan.

Itulah yang menjadi kewajiban. Bukan suatu keharusan bagi mereka untuk senantiasa berhasil, sebab mereka tidak mempunyai kekuasaan untuk merubah nasib manusia. Firman Allah kepada Nabi-Nya,

اِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ

Sungguh, engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki.” (al-Qashash: 56)

Firman Allah,

لَيْسَ عَلَيْكَ هُدٰىهُمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ

 “Bukanlah kewajibanmu (Muhammad) menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (hidayah) kepada siapa yang Dia kehendaki.” (al-Baqarah: 272)

 Firman Allah,

 “Itu bukan menjadi urusanmu (Muhammad) apakah Allah menerima tobat mereka atau mengazabnya, karena sesungguhnya mereka orang-orang zalim.(Ali Imran: 128)

Sepatutnyalah sang dokter tidak menaruh dendam kepada si pasen karena celaan atau balasannya yang kurang berkenan, sebab itu hanya akan membuat usahanya (untuk menyembuhkan si pasien) menjadi sia-sia.

Ada kalanya pula sang dokter perlu menyakiti fisik si pasien untuk sementara waktu, namun bukan untuk membalas dendam, hanya untuk terapi penyembuhan bagi si pasien. Tatkala Rasulullah saw dihujat dan diperangi oleh kaumnya, maka permohonannya kepada sang Khaliq, “Ya Rabbi, ampunilah kaumku karena kebodohannya!”

Dan tatkala berhasil dalam menaklukkan mereka, tidak sedikitpun terbetik niat untuk membalas dendam, baik dengan lidah atau tangannya. Beliau bahkan memperlakukan mereka dengan santun dan baik. Kiranya memang demikian karakter seorang dermawan dan pujangga yang apabila dapat mengalahkan musuhnya, bukan saja tidak disakiti bahkan dibalasnya dengan kebaikan.

Tatkala kami (baca: Syekh Ahmad Suirkati) dipersilahkan untuk datang kemari (ke Tanah Jawa) untuk mengajar, maka sebagai seorang da’i kami sangat menyadari kewajiban dari pekerjaan kami ini.

Firman Allah,

“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi Kitab (yaitu): “Hendaklah kamu menerangkannya (isi Kitab itu) kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya!”  (Ali Imran:  187)

Dalam benak kami, sebaik-baik penawar bagi penyakit umat adalah penawar pemberian Allah (Al-Qur’an), asal saja tidak diubah bagiannya yang penting. Sejak kedatangan kami di sini, kami telah melakukan terapi penyembuhan dengan cara tersebut. Ada orang yang berkata bahwa penawar itu terasa manis karena dia sehat, dan ada pula merasa pahit karena penyakit yang ada padanya. Ada pula yang menggunakannya atas dasar percaya saja pada manfaatnya yang besar, bukan karena rasa manisnya. Tidak sedikit pula yang langsung menampiknya tanpa memeriksanya lagi, hanya karena keangkuhan dan memperturutkan hawa nafsu setan. Mereka lebih senang memilih buta dalam rimba kesesatan dari pada kecerahan penglihatan yang bermanfaat, sebagaimana kaum jahiliyah zaman dahulu. Allah Ta’ala menceritakan dalam kitab-Nya,

“Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: ‘Ya Allah, jika (Al-Qur’an) in benar (wahyu) dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.” (al-Anfaal: 32)

Demikian perilaku mereka. Ya sudahlah, memang sudah menjadi suratan takdir bagi mereka untuk memiliki kelainan perilku seperti itu. Firman Allah,

وَلَوْ شَاۤءَ رَبُّكَ لَاٰمَنَ مَنْ فِى الْاَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيْعًا اَفَاَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتّٰى يَكُوْنُوْا مُؤْمِنِيْنَ

“Dan Jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman?” (Yunus: 99)

Apabila obat penawar sakit itu buatan kami sendiri, bisa saja salah meramunya. Namun, obat penawar tersebut buatan Allah Yang Maha Kuasa, yang mengetahui seluruh kandungan bumi dan langit. Bagi siapa yang tidak sembuh menggunakan penawar tersebut, berarti ittu sudah takdir Allah bahwa akal fikirnya sudah mati. Dan akibatnya ia akan menanggung kesengsasaraan selama-lamanya.

Firman Allah,

Dan Jikalau kami jadikan Al-Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya? Apakah patut (Al-Quran) dalam bahasa asing sedang (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: ‘Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan, orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al-Quran itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh. (Fushshilat: 44)

Kami sedikitpun tidak memiliki rasa dengki atau sakit hati kepada siapa pun juga, karena keteguhan keyakinan kami terhadap makna firman Allah yang menyatakan,

وَمَا تَشَاۤءُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ

Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (at-Takwir: 29)

Firman Allah,

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ اَنْ تُؤْمِنَ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ وَيَجْعَلُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِيْنَ لَا يَعْقِلُوْنَ

“Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.” (Yunus: 100)

Firman Allah,

Tidak ada satu pun makhluk bergerak yang bernyawa melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya (menguasainya).”    (Huud: 56)

Apa yang dikehandaki Allah untuk terjadi maka terjadilah, dan sebaliknya jika tidak dikehendaki maka tidak akan terjadi. Hanya kepada Allah jualah kami bertawakal dan bersandar.*

SUMBER: Majalah AZZACHIRATOEL ISLAMIJAH, Than I, 1 Muharram 1342 H / Agustus 1923 M; Diterbitkan oleh Ahmad Soorkattie Alansarie, Batavia.

One thought on “Dokter Rohani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>