Rasyid Ridha tentang Gerhana

Pendapat Syeikh Rasyid Ridha tentang Gerhana

Terjadinya gerhana adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah dan sebagai bukti keagungan-Nya. Maka, sudah sepatutnya peristiwa itu mendorong kita untuk selalu ingat dan taat kepada Allah. Bukankah shalat yang lima waktu juga ditetapkan waktunya berdasarkan peredaran matahari?

Gerhana bukan merupkan bencana atau penyebab malapetaka seperti anggapan kebanyakan orang. Tapi, gerhana adalah termasuk peristiwa alam yang rutin, sebagaimana firman Allah:

الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ

Matahari dan bulan itu beredar menurut aturan.” (ar-Rahman: 5)

Karena itu, terjadinya gerhana dapat diketahui oleh ahli-ahli falak yang dapat juga ditentukan sebelum terjadinya, dan dapat pula dipastikan dengan perhitungan yang cermat, sampai kepada menit dan detiknya. Ahli falak dapat menetapkan penyesuaiannya setiap tahun, apa yang terjadi setiap tahun, lama gerhana, letaknya, dan daerah-daerah yang dapat melihat gerhana. Mereka tidak akan keliru dalam menghitung karena mereka berdasar kepada hisab yang telah ditentukan oleh Allah, dan ia tidak akan keliru. Ahli-ahli falak juga dapat menerangkan apa yang terjadi setelah lewat waktunya beberapa ratus atau beberapa ribu tahun.

(Dikutip dari buku “SHALAT-SHALAT SUNNAT“, karya Al-Ustadz Said Thalib al-Hamdani, hal. 120-121)

Hadits-hadits Al-Mahdi Palsu

Hadits-Hadits tentang Al-Mahdi Palsu

Oleh: Al-Ustadz Umar Hubeis  (1904-1979)

umarhubeis1Pertanyaan:

“Betulkah Imam Mahdi akan muncul di dunia dan apa perannya?”

Jawab:

Khabar tentang Imam Mahdi yang katanya akan muncul di dunia untuk menegakkan keadilan setelah merajalelanya kezaliman dan sebagainya, bersumber dari hadits-hadits yang tidak shahih.

Hadits-hadits tentang Al-Mahdi ini dihimpun oleh Abdullah Muhammad al-Anshari al-Andalusi. Dalam kitab “Mukaddimah” yang ditulis oleh Ibnu Khaldun yang amat terkenal itu dinyatakan bahwa hadits-hadits tersebut dikarang oleh para politisi dari kelompok Syiah dan kelompok lainnya yang berambisi merebut jabatan khalifah.

Ibnu Khaldun menyebutkan, beberapa tokoh Syiah telah menggunakan atau diberi gelar “Al-Mahdi”, diantaranya adalah Muhammad ibnul Hasan al-Askari, yang katanya menghilang ke dalam gua dan kelak akan muncul kembali untuk menegakkan keadilan di dunia serta membawa kemakmuran.
BACA SELENGKAPNYA “Hadits-hadits Al-Mahdi Palsu”

Nabi Khidir dan Al-Mahdi

Nabi Khidir dan Al-Mahdi

Oleh: Ustadz Said Thalib al-Hamdani *

Seorang sufi, Syekh Abdul-Wahhab asy-Sya’rani, dalam kitabnya Al-Anwarul Qudsiyyah menjelaskan bahwa pada waktu berada di antara tidur dan sadar, ia seakan mendengar orang berkata-kata kepadanya. Namun, orang itu hanya dapat didengar suaranya, tidak dapat dilihat orangnya.

Ia (asy-Sya’rani) lalu menerangkan, “Siapakah dia yang berkata-kata itu?  Ketahuilah bahwa yang berkata-kata itu mungkin malaikat, wali, jin yang saleh, AL-KHIDIR as. (Nabi Khidir), dan atau lainnya. Al-Khidir as. masih hidup, tetap ada dan belum mati. Kami telah pernah menemui orang yang menjumpai Al-Khidir dan AL-MAHDI, yang daripada keduanya telah diambil tarekat golongan kami dan seterusnya.”

Dari beberapa kitab karangannya, Asy-Sya’rani kelihatan seperti seorang ahli sufi yang linglung, yang bertindak serampangan. Ia telah mengisi kitab-kitab karangannya dengan berbagai khurafat, kemusyrikan dan kesesatan. Ia telah menyebut-nyebut nama-nama Al-Khidir, Al-Mahdi, jin yang saleh, malaikat dan lain-lainnya.

Padahal telah diketahui bahwa Al-Mahdi itu adalah hanya seorang yang diciptakan oleh khayal politik Persia (lihat Tafsir Al-Manar). Sebenarnya ia (Al-Mahdi, Imam Mahdi) itu tidak berwujud, hanya di nyanyi-nyanyikan oleh golongan Syiah.

BACA SELENGKAPNYA “Nabi Khidir dan Al-Mahdi”

Hukum Ziarah Kubur

Ziarah Kubur Hukumnya Sunnah

Oleh: Al-Ustadz Allamah Syekh Ahmad Surkati (1874-1943 M)

Diambil dari: Majalah Azzakhiratul Islamiyyah No. 2, Safar 1342 H

TANYA:

Bagaimana hukum Ziarah Kubur dalam pandangan agama atau syara’? Apakah sunnah, wajib, mubah, makruh atau haram? (AHMAD SJOEKRI, seorang murid Al-Irsyad School di Batavia yang berasal dari Lampung, pada 8 Zulqaidah 1341)

JAWAB:

Ahmad Surkati 220Hukum ziarah kubur adalah SUNNAH. Itupun apabila ziarah dilakukan untuk merundukkan hati dengan melihat kubur serta ingat akan akhirat. Di samping itu, juga dengan komitmen tidak akan melakukan perbuatan-perbuatan munkar, seperti: meratap, membakar dupa, memasang lampu, meminta syafaat atau barakah dari si mayit, shalat, mendirikan mesjid di atas kubur tersebut, membaca Al-Qur’an, memotong hewan, bernazar, dan perbuatan mungkar lainnya. Semua itu adalah perbuatan munkar, hanya saja tingkatannya ada yang makruh, ada yang haram, serta ada pula yang syirik dan jelas-jelas kufur.

Di atas disebutkan bahwa ziarah kubur yang terbebas dari segala perbuatan munkar hukumnya adalah sunnah, hal ini didasarkan sabda Nabi saw seperti yang dirawikan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya dari Zaid bin Sabit sebagai berikut:
BACA SELENGKAPNYA “Hukum Ziarah Kubur”

Niat Shalat

Hukum Melafazkan Niat Shalat

Oleh: Syeikh Ahmad Surkati (1874-1943 M)

Diambil dari: Majalah Azzakhiratul Islamiyyah No. 1, Muharram 1342 H

TANYA:

Apakah niat itu harus diniatkan sebelum takbiratul ihram, sesudahnya, atau ketika mau takbir? Niat itu perlu diucapkan dengan lisan atau tidak? Wajibkah niat dan takbir diucapkan bersamaan dengan lisan dan hati seperti kata kebanyakan orang yang menyatakan: nawaitu ushalli fardhudzuhri ada-an lillahi taala lantas mengucapkan: Allahu Akbar (AHMAD SJOEKRI, murid Al-Irsyad School di Batavia yang berasal dari Lampung, pada 8 Zulqaidah 1341)

JAWAB:

Syekh Ahmad Surkati
Syekh Ahmad Surkati

Tentang niat dalam melakukan ibadah shalat hukumnya adalah wajib, sebab merupakan salah satu rukun sahnya shalat. Seseorang yang melakukan tanpa didahului degan niat, maka dianggap dia tidak shalat. Tidak mungkin terjadi seseorang yang berakal sehat melakukan sesuatu perbuatan dengan tidak mempunyai maksud, kecuali ia tidur, sakit atau mabuk, gila dan sebagainya.

Orang yang shalat karena Allah (bukan karena riya), dan dikerjakan sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan, berkhusyuk kepada Allah dan pada waktu yang ditentukan, maka pahalanya pun dari Allah. Namun, jika untuk mendapat pujian orang (riya), meskipun shalatnya dilakukan dengan sempurna, tidak akan terbilang sebagai shalat yang sejati. Bagi si pelakunya bukan saja tidak mendapat pahala bahkan mendapat siksa.
BACA SELENGKAPNYA “Niat Shalat”

Biografi Muhammad Munif

USTADZ MUHAMMAD MUNIF, TOKOH PENDIDIKAN AL-IRSYAD

Oleh: Abdullah Batarfi *

Tokoh Al-Irsyad asal Bogor ini telah mengabdikan dirinya untuk kepentingan dan pengembangan Al-Irsyad secara keseluruhan, baik untuk Al-Irsyad Bogor maupun untuk Al-Irsyad secara keseluruhan.

Ustadz Muhammad MunifAl-Ustadz Muhammad Munief adalah salah satu tokoh paling penting di awal sejarah Al-Irsyad. Ia murid langsung Syekh Ahmad Surkati di Madrasah Al-Irsyad Jakarta. Setelah lulus, pemuda kelahiran Bogor tahun 1903 ini memilih mengabdi di almamaternya, menjadi guru di Madrasah Al-Irsyad di Petojo Jagamonyet (Jakarta Pusat sekarang).

Ketokohan Muhammad Munif tidak terbatas di Al-Irsyad cabang Bogor saja, tapi beliau adalah tokoh Al-Irsyad nasional. Atas jasanya yang besar terhadap Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah, Pimpinan Pusat Al-Irsyad Al-Islamiyyah dalam Muktamarnya di Jakarta, 6 September 2007 telah menganugerahi gelar Tokoh Pendidikan Al-Irsyad kepada beliau. Gambar beliau juga telah diabadikan dalam seri perangko khusus, yang diterbitkan oleh PT Pos Indonesia dalam rangka menyambut Mukatamar ke-38 Al-Irsyad Al-Islamiyyah di Cibubur, Jakarta.
BACA SELENGKAPNYA “Biografi Muhammad Munif”

Ahmad Surkati di Jamiat Khair Indonesia

SYAIKH AHMAD SURKATI (1875-1943), Pembaharu & Pemurni Islam di Indonesia (3)

Oleh: Prof. Dr. Bisri Affandi, MA

KIPRAH AHMAD SURKATI DI JAMIAT KHAIR, BATAVIA

Jpeg
BEKAS GEDUNG SEKOLAH JAMIAT KHAIR DI PEKOJAN. Di sinilah Syekh Ahmad Surkati mengawali kiprah intelektualnya di Indonesia (FOTO: Mansyur Alkatiri)

Dari dokumen-dokumen itu dikatakan, Ahmad Surkati datang ke Indonesia di tahun 1329 H atau tahun 1911 M.[1] Ia didatangkan oleh Perguruan Jamiat Khair, suatu perguruan yang anggota pengurusnya terdiri dari orang-orang Indonesia keturunan Arab golongan Ba-Alawi (keluarga besar Alawi) di Jakarta.[2]

Maksud pengurus Jamiat Khair mendatangkan Ahmad Surkati ialah dalam rangka memenuhi kebutuhan guru. Menurut Deliar Noer, sekolah Jamiat Khair bukan lembaga pendidikan yang semata-mata bersifat agama, tetapi juga mengajarkan ilmu berhitung, sejarah, dan pengetahuan umum lainnya.[3]

Bahasa pengantar di Perguruan Jamiat Khair adalah bahasa Melayu atau Indonesia. Sedang bahasa asing yang diajarkan selain bahasa Arab adalah bahasa Inggris yang termasuk mata pelajaran wajib, pengganti bahasa Belanda yang sengaja tidak diajarkan di sekolah ini.

Untuk memenuhi kebutuhan tenaga pengajarnya, Jamiat Khair mendatangkan guru-guru dari daerah dan luar negeri. Sebelum Ahmad Surkati, organisasi ini telah mendatangkan al-Hashimi, guru asal Tunis yang tiba di Indonesia sekitar awal 1911.
BACA SELENGKAPNYA “Ahmad Surkati di Jamiat Khair Indonesia”

Pembaharu Islam di Indonesia

SYEKH AHMAD SURKATI (1874-1943): Pembaharu dan Pemurni Islam di Indonesia*

Oleh: Katamsi Ginano**

Syekh Ahmad Surkati asli Menengok kembali Indonesia di akhir abad 19 hingga awal abad 20, kita menyaksikan hiruk pikuk pertentangan ideologi, praktek, dan politik beragama. Banyak literatur mencatat, hingga periode 1930-an, di tengah gejolak kolonialisme Belanda, kegairahan pencarian jati diri kaum muslimin melahirkan banyak tokoh dan organisasi yang mengusung panji Islam.

Nama-nama seperti Haji Zamzam (pendiri Persatuan Islam), Kiai Hasjim Asj’ari (Nahdlatul Ulama), Kiai Haji Ahmad Dahlan (Muhammadiyah), Ahmad Surkati (Al-Irsyad) mengedepan sebagai ulama, cendekiawan, dan intelektual Islam. Mereka bahkan tak hanya membaktikan ide-ide dan ajarannya terhadap pengembangan agama yang dibawa Rasulullah Muhammad saw. ini, tapi juga ikut menyuburkan semangat nasionalisme yang mengantarkan Indonesia merdeka di tahun 1945.
BACA SELENGKAPNYA “Pembaharu Islam di Indonesia”