Mandi Janabah Siang Hari Ramadhan

Mandi Janabah Siang Hari di Bulan Ramadhan

Oleh: Al-Ustadz Umar Hubeis  (1904-1979)

umarhubeis1
Pertanyaan:

“Bagaimana caranya mandi hadas besar waktu siang hari dalam bulan puasa? Dan apakah wajib juga dicuci potongan rambut dan kuku yang dilakukan sebelum mandi?”

Jawab:

Seseorang yang berhadas besar boleh mandi sesudah fajar menyingsing di bulan puasa. Mandi apa saja tidak membatalkan puasa.

Para sahabat dulu umumnya mengira bahwa pada malam hari bulan puasa sesudah tidur tidak boleh bersetubuh, lalu Allah menurunkan firman-Nya ayat 187 surat al-Baqarah:

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari puasa bercampur dengan istri-isteri kamu.”

BACA SELENGKAPNYA “Mandi Janabah Siang Hari Ramadhan”

Batas Akhir Makan Sahur

Batas Akhir Makan Sahur

Oleh: Al-Ustadz Umar Hubeis  (1904-1979)

umarhubeis1Pertanyaan:

“Seseorang yang sedang makan atau sedang bersetubuh (jimak) pada malam bulan Ramadhan lalu terdengar azan shubuh, apakah perbuatan itu boleh diteruskan ataukah wajib dihentikan?”

Jawab:

Seseorang diperbolehkan makan, minum atau bersetubuh (jimak) dan sebagainya sampai fajar menyingsing (shubuh). Apabila fajar telah menyingsing, wajib dia keluarkan apa yang kepalang ada di mulutnya atau menghentikan jimaknya. Kalau hal itu tidak dia lakukan, maka puasanya tidak sah.

Allah swt berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 187:

BACA SELENGKAPNYA “Batas Akhir Makan Sahur”

Wajib Tidak Puasa

Wajib Tidak Puasa

Oleh: Al-Ustadz Umar Hubeis  (1904-1979)

umarhubeis1Pertanyaan:

“Seorang pasien dilarang dokter untuk tidak berpuasa karena sakit maag atau penyakit lain, namun ia tetap berpuasa, dan akhirnya ia meninggal dunia. Mohon penjelasan, Ustadz.”

Jawab:

Apabila si pasien percaya kebenaran keterangan dokter itu, lalu ia melanggar perintahnya sampai ia meninggal, ia dianggap sudah melanggar hukum dan membunuh dirinya sendiri. Sebab, Allah telah berfirman dalam Al-Qur’an:

Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (al-Baqarah: 195)

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (an-Nisaa’: 28)

Maka, barangsiapa meninggalkan sesuatu yang mubah (boleh) sehingga ia mati, maka ia dianggap telah melanggar hukum, membunuh dirinya sendiri dan berdosa.

Demikian ijma’ ulama. (Ahkamul Qur’an, oleh al-Jashash)

Qadha Puasa Karena Sakit

Qadha Puasa Karena Sakit Maag Lama

Oleh: Al-Ustadz Umar Hubeis  (1904-1979)

umarhubeis1Pertanyaan:

“Bagaimana hukum seorang wanita yang sesudah melahirkan anak dia menderita sakit maag terus-menerus sampai tiba bulan puasa. Apakah dia tetap wajib berpuasa sehingga dia wajib meng-qadha hari-hari puasa yang ia tinggalkan di bulan puasa sebelumnya?”

Jawab:

Setiap lelaki atau wanita yang tidak mengerjakan puasa karena sakit atau takut sakit bila puasa, maka dia diwajibkan meng-qadha’ nya sesudah sembuh, kecuali jika sakitnya terus-menerus (tidak berhenti) atau menurut keterangan dokter yang bisa dipercaya penyakitnya itu tidak bisa sembuh. Dalam keadaan seperti ini orang tersebut boleh tidak berpuasa, lalu menggantinya dengan membayar fid-yah, yaitu sedekah berupa makanan bagi seorang miskin setiap harinya.

BACA SELENGKAPNYA “Qadha Puasa Karena Sakit”

Injeksi Anti Lapar

Hukum Injeksi Anti Lapar Saat Berpuasa

Oleh: Al-Ustadz Umar Hubeis  (1904-1979)

Pertanyaan:

Al-Ustadz UMAR HUBEIS“Bagaimanakah menurut hukum, bila seseorang yang berpuasa memakai injeksi tertentu dengan tujuan agar bisa menahan lapar, apakah hal itu tidak mengurangi hikmah puasa?”

Jawab:

Menurut hukum, injeksi untuk berobat tidak membatalkan puasa dan tidak pula mengurangi pahala atau hikmah puasa, sebagaimana pendapat para ulama muta’akh-khirin yang mengalami masa pengobatan secara itu. Tetapi injeksi yang dimaksud dalam pertanyaan Anda ini tidaklah sama dengan injeksi untuk pengobatan, bahkan dapat disamakan dengan cara pemberian makan minum bagi orang yang sakit melalui luar mulut (infus). Maka injeksi tertentu itu sesudah fajar menyingsing, sebelum matahari terbenam, akan membatalkan puasa seseorang, bahkan juga akan mengurangi pahala atau hikmahnya berpuasa.

Penggunaan Hisab dan Rukyat

Penggunaan Hisab dan Rukyat

Oleh: Al-Ustadz Umar Hubeis  (1904-1979)

Al-Ustadz UMAR HUBEIS
Al-Ustadz UMAR HUBEIS

Rasulullah saw. telah menetapkan awal bulan Ramadhan dan awal bulan Syawal dengan rukyat. Beliau bersabda,

Kita adalah suatu umat yang bodoh, tidak pandai menulis dan tidak pandai menghitung (hisab) bahwa satu bulan adakalanya 29 hari atau 30 hari.” (HR. Bukhari)

Ibnu Hajar al-Asqalani menerangkan bahwa yang dimaksud dengan kata “kita” dalam hadits di atas adalah kaum muslimin pada masa itu, saat beliau mengucapkan sabda itu. Kebanyakan mereka buta huruf dan tidak mengerti perhitungan (Fathul Baari IV hal. 89).

Rasulullah saw. bersabda,

BACA SELENGKAPNYA “Penggunaan Hisab dan Rukyat”

Menembus Luar Angkasa

MENEMBUS LUAR ANGKASA

Oleh: Al-Ustadz Umar Hubeis  (1904-1979)

Al-Ustadz UMAR HUBEIS
Al-Ustadz UMAR HUBEIS

Pertanyaan:

“Allah swt. berfirman dalam surah ar-Rahman ayat 33:

يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَن تَنفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانفُذُوا لَا تَنفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ

Hai golongan jin dan manusia, jika kamu bisa menembus penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.”

Apakah kata “tembus” di sini maksudnya ta’jiz, yakni kamu tidak dapat dan tidak mungkin menembus?

Jawaban:

Memang ada di antara para mufassir yang menafsirkan ayat tersebut sebagaimana Anda katakan itu, yaitu anfidzu merupakan fi’il amr untuk ta’jiz. Tetapi Ibnu Abbas menafsirkannya sebagai berikut:

“Apabila kamu dapat mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi, maka ketahuilah, dan kamu tidak akan mengetahui kecuali dengan sulthan.”

Kata sulthan ditafsirkan dengan kekuasaan, kekuatan, dan ilmu.

Untuk mengetahui lebih lebih lengkap, silakan baca Tafsir al-Jamal (Sulaiman al-Jamal), Tafsir Ruhul Ma’ani (Mahmud al-Alusi), dan Tafsir Baidhawi (Nashiruddin al-Baidhawi).*

 

Pendaratan Apollo di Bulan dalam Pandangan Islam

PENDARATAN APOLLO 11 DI BULAN DALAM
PANDANGAN ISLAM

Oleh: Ustadz Umar Hubeis  (1904-1979)

Al-Ustadz UMAR HUBEIS
Al-Ustadz UMAR HUBEIS

Pertanyaan:

Apakah berita tentang pendaratan Apollo-11 di bulan dapat dipercaya? Bagaimana pula pandangan Islam terhadap upaya manusia untuk mengarungi ruang angkasa dan planet-planet seperti bulan, Mars, dan lain-lain?

Jawaban:

Kepercayaan kita terhadap berita Apollo-11 adalah sama seperti kepercayaan kita terhadap penemuan-penemuan ilmiah yang positif lainnya. Umat Islam menyambut kabar hasil kemajuan teknologi dan kemajuan bidang ilmiah lainnya dengan gembira serta penuh penghargaan. Ini merupakan salah satu jalan untuk memberikan keyakinan tentang keesaan Tuhan dan kebenaran Al-Qur’an, kitab suci umat Islam. Di dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang berhubungan dengan masalah itu.

Firman-Nya dalam surah Fushshilat ayat 53:
BACA SELENGKAPNYA “Pendaratan Apollo di Bulan dalam Pandangan Islam”

Tabir di Masjid

TABIR DI MASJID UNTUK KAUM WANITA

Oleh: Al-Ustadz Said Thalib al-Hamdani **)

Memasang hijab atau tabir yang kita lakukan sekarang ini tidak ada di masa Rasulullah saw. Tidak ada hijab pemisah antara laki-laki dan perempuan. Lantas, dimanakah harus dipasang tabir? Kaum wanita keluar rumah tanpa memakai perhiasan, mereka memakai baju yang longgar, kudung mereka sampai menutup leher, maka tempat manakah yang lebih utama dipasang tabir? Di mushala kah ataukah di masjid?

Rasulullah saw. tidak pernah menyuruh untuk memasang tabir di masjid dan juga tidak pernah mempergunakan tabir di mushalla, tetapi Rasulullah saw. hanya memerintahkan kepada kaum wanita kalau ke masjid supaya pulang lebih dahulu dari pada kaum pria.
BACA SELENGKAPNYA “Tabir di Masjid”