Al-Qur’an Mukjizat Abadi

muhamad abduh mukaOleh: Syekh Muhammad Abduh (1849-1905)

Syekh Muhammad Abduh adalah pemikir besar Mesir dan pelopor gerakan Reformisme Islam di masanya. Ia merupakan guru ideologis para pembaharu (reformis) di seluruh Dunia Islam di masanya dan masa sesudahnya, termasuk Syekh Ahmad Surkati dan KH Ahmad Dahlan. Dua karya utama beliau: Tafsir Al-Manar dan Risalah Tauhid menjadi buku pegangan utama di Madrasah Al-Irsyad yang didirikan Syekh Ahmad Surkati dulu).

Telah datang kepada kita suatu berita yang mutawatir, yang tidak diragukan lagi kebenarannya, bahwa Nabi Muhammad saw. dibesarkan sebagai seorang ummi. Dan, merupakan pula suatu berita yang mutawatir bagi seluruh bangsa-bangsa di dunia, bahwa beliau datang membawa suatu Kitab Suci yang diturunkan kepada beliau, bahwa Kitab itu adalah Al-Qur’an yang dituliskan dalam mushaf-mushaf yang terpelihara dalam dada semua orang Islam yang mementingkan untuk menghafalnya sampai dewasa ini.

Al-Qur-an adalah Kitab yang mengandung berita bangsa-bangsa yang telah silam, yang dapat dijadikan contoh dan perbandingan bagi umat yang hidup sekarang dan yang akan datang, memuat berita pilihan yang dipastikan kebenarannya, dan sebaliknya menghilangkan yang batil-batil yang bercampur-aduk dengan bermacam-macam khurafat. Tegasnya, memilih berita-berita yang berguna untuk dijadikan teladan perbandingan.

Al-Qur’an menceritakan hikayat para Nabi yang dikehendaki oleh Allah untuk mengisahkannya kepada kita tentang riwayat hidup perjuangan mereka, dan peristiwa-peristiwa yang terjadi antara mereka dengan umatnya. Dan Allah membersihkan para nabi itu dari tuduhan orang-orang, yang kemudian menjadi percaya juga kepada kerasulan mereka.

Al-Qur-an mencela para pemuka agama dari segala agama atas perbuatan dan gerak-gerik mereka yang merusakkan sendiri kepercayaan mereka itu, dan mencampur-adukkan hukum-hukum agama mereka, serta memutarbalikkan kitab-kitab suci dengan takwil yang telah jauh menyimpang dari makna yang seharusnya. Dan, Al-Qur’an mensyariatkan kepada manusia hukum-hukum yang sangat cocok dengan kemaslahatan kehidupan mereka. Hukum yang telah terbukti faidahnya bila dipraktekkan dan dipelihara baik-baik. Hukum yang menegakkan keadilan dan mengatur masyarakat pergaulan manusia selama orang berhenti pada batas yang telah ditentukannya. Kemudian besarlah bahayanya (risiko) dalam menghampakan dan berpaling daripadanya, atau menjauhkan diri dari roh yang dikandung Al-Qur’an itu. Oleh karenanya, Kitab Suci Al-Qur’an itu mengungguli segala Undang-undang atau peraturan yang dibikin oleh manusia (sekuler) sebagaimana jelas diakui sendiri oleh para peneliti perundang-undangan bangsa-bangsa. Kemudian setelah itu, ia datang dengan hikmat dan pengajaran-pengajaran yang berguna, dan tuntunan budi-pekerti (kebudayaan) yang mengkhusyukkan kalbu dan menggerakkan akal untuk menerimanya serta didorong oleh himmah yang kuat untuk mencapai jalan yang menuju kebahagiaan umat, berupa kemenangan yang dekat.

Al-Qur’an diturunkan Tuhan pada suatu zaman yang para ahli riwayat telah sepakat mengatakan, dan telah merupakan berita yang mutawatir, bahwa zaman itu adalah merupakan puncak kemajuan bangsa Arab dalam bidang bahasa dan banyak sekali menelorkan angkatan-baru yang fusahat. Dan zaman itu adalah merupakan ciri yang membedakannya dengan segala kemajuan yang pernah dicapai oleh mereka, yakni karena banyaknya muncul para pujangga (sasterawan) dan pahlawan-pahlawan mimbar yang ahli pidato. Dan yang paling jago dalam pandangan bangsa Arab waktu itu, ialah orang yang paling pintar mengeluarkan buah fikirannya sebagai tanda kecerdasan, yakni: keunggulan dalam memilih kata-kata dan cepat meresapnya ke dalam hati serta logis menurut akal. Tentang bagaimana mereka mau habis-habisan berkorban mengeluarkan harta-bendanya untuk bermegah-megah dalam perlombaan itu, rasanya tidak perlu diterangkan panjang lebar di sini.

Telah mutawatir berita seperti demikian itu, bahwa bangsa Arab itu telah bernafsu sekali untuk menantang Nabi saw. dan mereka berusaha mencapai berbagai jalan -dekat maupun jauh- untuk dapat membatalkannya dalam segala berita yang datang dari Allah, dan semua itu mereka lakukan dengan segala daya upaya yang ada pada mereka.

Untuk itu mereka mempunyai banyak raja di mana tahtanya yang tinggi itu dapat mereka pergunakan untuk melawan Nabi. Mereka mempunyai para pembesar yang kekuasaan mereka dapat dipakai untuk merintangi Nabi. Mereka mempunyai ahli-ahli pidato (orator-orator), pujangga-pujangga dan penulis-penulis yang kesemuanya itu mengernyutkan hidungnya membangkang kepada Nabi. Dan memang, mereka semua itu telah sangat keterlaluan durhakanya dan telah mengerahkan segenap kekuatannya. Semua itu tidak lain karena sifat angkuh yang tidak mau tunduk kepada ajaran beliau (Nabi saw.) dan karena hendak terus berpegang kepada agama-agama tradisi leluhur mereka yang kolot, serta menjaga akidah-akidah mereka dan leluhurnya yang sesat itu.

Dalam suasana yang demikianlah Nabi Muhammad saw. bangkit menyatakan keliru fikiran bangsa Arab itu dan menyebut bodoh segala impian dan lamunan mereka, serta memandang rendah terhadap patung-patung berhala yang mereka sembah. Di samping itu, beliau mengajak mereka kepada jalan baru, sesuatu yang masih asing bagi mereka selama ini. Dan, belum ada suatu benderapun yang mereka lihat berkibar di angkasa seperti yang dikibarkan Nabi itu. Tak ada sama sekali hujjah bagi beliau untuk menjawab tantangan yang dahsyat itu kecuali mendesak mereka supaya dapat mengemukakan sesuatu yang bisa menyerupai sebuah surat yang terpendek yang dikandung oleh Kitab Al-Qur’an, ataupun kalau sanggup sepuluh surat seperti yang dikandung oleh Al-Qur’an itu. Sekalipun katanya sanggup untuk menghimpun segala alim-ulama, ahli-ahli sastera dan ahli-ahli balaghah (orator-orator) menurut kemauan hati mereka untuk dapat mematahkan hujjah beliau serta membungkam beliau sendiri, tetapi nyatanya mereka tak sanggup berbuat demikian.

Telah sampai pula kepada kita kabar mutawatir, bahwa karena panjangnya masa perlawanan bangsa Arab itu serta lamanya dendam-kesumat yang sangat agresif, tapi akhirnya mereka menjadi lemah dan kembali dengan menderita kerugian. Maka, Kitab Suci Al-Qur’an itu muncul sebagai kalimah yang Agung yang mengungguli kalimah apapun, dan hukumnya yang tinggi itu telah menjadi hukum atas segala hukum yang ada. Apakah munculnya Kitab seperti ini yang disampaikan oleh lisan seseorang yang ummi (tak mengerti tulis-baca) bukan suatu mukjizat yang paling besar dan dalil bukti yang paling nyata, bahwa ia bukan lahir dari hasil ciptaan manusia? Dan tapi ia adalah suatu nur cahaya yang memancar dari matahari ilmu ilahi dan hukum yang datqng dari hadhirat Rabbani yang disalurkan dengan perantara lisan seorang Rasul yang ummi saw.?!

Begitulah, dan telah tersebut dalam Kitab Suci itu beberapa berita tentang hal yang gaib yang dapat dibuktikan kebenarannya oleh kejadian peristiwa dunia seperti berita dalam firman-Nya,

Telah dikalahkan bangsa Rum dari daerah bumi yang dekat; dan mereka setelah menderita kekalahan itu beberapa tahun kemudian akan menjadi pemenang kembali.” (QS Ruum: 2-4)

Dan seperti berita yang mengandung janji harapan, disebutkan dalam firman-Nya,

Allah telah menjanjikan kepada mereka yang percaya (beriman) di antara kamu dan mereka yang suka melakukan amal kebajikan, bahwa mereka akan memegang kekuasaan di muka bumi ini sebagaimana telah berkuasa orang-orang yang sebelum mereka.” (QS An-Nuur: 55)

Semuanya itu telah terbukti kebenarannya. Memang dalam Al-Qur’an banyak sekali contoh-contoh ayat yang menerangkan kegaiban seperti ini yang dapat ditemui oleh siapa yang teliti membacanya.

Dan di antara berita gaib yang tersebut dalam Al-Qur’an adalah juga berita yang menyebutkan tantangan orang Arab kepada Kitab Suci itu sendiri, dan akhirnya kaum beliau itu mundur teratur setelah tantangan mereka itu dijawab oleh Nabi yang meminta mereka supaya mendatangkan sebuah surat yang dapat menandingi Al-Qur’an. Padahal sebagaimana dimaklumi, bahwa negeri Arabia itu adalah negeri yang luas dan penduduknya banyak terdiri dari orang-orang yang ahli bahasa dan letaknya berjauhan satu sama lain. Sementara dakwah Nabi hanya dapat tersiar dengan perantara lisan para delegasi yang berkunjung menemui beliau di Mekkah. Mereka datang dari berbagai jurusan tanah Arab. Disamping itu, Nabi sendiri belum pernah datang mengembara berdakwah ke sekeliling tanah Arab, dan belum pernah pula berkenalan dengan tokoh-tokoh terkemuka mereka. Padahal, kekurangan seperti ini biasanya dapat menjadi halangan untuk mengetahui rahasia kekuatan yang tersimpan dalam batin bangsa yang besar seperti halnya bangsa Arab itu.

Maka jelaslah, jawaban Nabi saw. terhadap tantangan bangsa Arab itu, di mana mereka tidak sanggup mengemukakan satu surat seperti Al-Qur’an, pada hakikatnya bukanlah datang dari kekuatan manusia itu sendiri (Muhammad saw). Karena sulit diterima akal, bahwa perlawanan yang maharaksasa dari bangsa yang paling keras itu (Arab) akan bisa dihadapi oleh seorang diri beliau saja.

Nyatalah, jawaban terhadap tantangan bangsa Arab itu sebenarnya datang dari Allah yang Maha Kuasa. Dialah yang sebenarnya berbicara. Dialah yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana. Dialah yang berkata yang disampaikan dengan perantara lisan Muhammad saw. itu. Ilmu-Nyalah yang tahu bahwa segala kekuatan akan menjadi lemah untuk menandingi Al-Qur’an itu dan segala apa yang disampaikan oleh Muhammad saw. kepada mereka itu.

Tentu ada orang yang masih ragu yang berkata: “Bahwa faktor Al-Qur’an itu mengandung unsur mukjizat yang dapat mengalahkan penantangnya, bukan merupakan alasan yang kuat. Karena faktor demikian itu hanya bisa membungkam dan memaksa lawan menyerah. Memang, lawan itu kadang-kadang terpaksa menyerah kalah, sehingga mulutnya terkunci dan tak sanggup memberi jawaban sehingga ia harus menerima hujjah. Tetapi, cara demikian itu tidak dapat menundukkan orang lain. Jadi, mungkin saja dia sebenarnya tidak menyerah sehingga dalil itu tidak bisa mematahkan atau membungkamnya. Bahkan ia mungkin saja mendapat jalan untuk membatalkan hujjah itu dalam masa jangka waktu dekat.”

Begitulah bunyi ucapan keraguan, yang kelak akan sirna dengan sendirinya sebagaimana keterangan yang telah kami kemukakan di atas tadi. Sebab, tidak dapat disamakan antara “mukjizat Al-Qur’an” dengan “dalil yang bisa mematahkan lawan” walaupun dalam keduanya itu terdapat unsur yang sama yang “dapat melemahkan lawan”. Tapi, pasti ada perbedaan di antara keduanya, serta jauhnya perbedaan tentang cara pengambilan dalil. Maka, mukjizat Al-Qur’an adalah suatu dalil yang dapat dibuktikan dengan lemahnya kekuatan manusia untuk menandinginya dalam hal balaghah-nya.

Kami sebut “kekuatan manusia” ialah karena Qur’an itu datang dengan bahasa lisan bangsa Arab dan Kitab Suci itu dikenal semua orang Arab dalam masa kenabian. Dan, sebagaimana apa yang telah kami sebutkan, zaman itu adalah puncak perkembangan kesusasteraan Arab. Telah dijelaskan pula betapa besar durhakanya bangsa itu terhadap Nabi Muhammad saw. Namun demikian, bangsa Arab itu tetap tidak bisa mengalahkan Al-Qur’an walaupun telah memeras otak sekuat-daya. Oleh sebab itu, tidak masuk akal ada orang-orang Persia atau India, ataupun bangsa Romawi, akan sanggup mengatasi keunggulan balaghah Arab dalam bidang kesusasteraan Arab untuk menandingi Al-Qur’an yang bangsa Arab sendiri tidak sanggup menghadapinya.

Pendeknya, seluruh kekuatan menjadi sia-sia untuk menghadapinya. Dengan bersamaannya tempat kelahiran dan pendidikan Nabi dengan mereka itu, dan bahkan banyak di antara bangsa Arab itu yang ilmu dan pendidikannya lebih tinggi dari Nabi sendiri, adalah suatu dalil-bukti yang nyata lagi meyakinkan, bahwa Kalam Al-Qur’an itu tidak lahir dari dada manusia yang biasa diucapkan orang. Tetapi ia khusus diberikan Allah kepada orang yang bertugas menyempaikan Al-Qur’an itu dengan lisannya yang suci (Nabi Muhammad saw.).

Kemudian, apa yang tersebut dalam Al-Qur’an bahwa manusia pasti tidak sangggup menandingi Al-Qur’an, dan bahwa Al-Qur’an itu mampu menghadapi semua tantangan kekuatan yang dihadapkan mereka kepadanya, adalah menunjukkan bahwa yang mengucapkan itu percaya kepada dirinya sendiri, yang tidak mungkin dilakukan seseorang sampai ajalnya datang. Semua ini menjadi bukti bahwa Yang Berbicara itu pada hakikatnya adalah Zat Yang Maha Mengetahui alam gaib maupun alam yang nyata, bukan orang yang datang memberi pelajaran dan nasihat secara biasa saja.

Maka telah menjadi ketetapan dengan datangnya mukjizat yang maha besar ini, telah ditunjukkan dalilnya oleh Kitab Suci yang Abadi ini. Kitab yang tidak bisa mengalami perubahan dan tidak pula bisa diganti (walaupun zaman dan suasana berubah-ubah, pen), bahwa Nabi kita Muhammad saw. adalah seorang Rasul utusan Allah kepada segenap makhluk-Nya. Karenanya, wajiblah membenarkan Risalah Kerasulannya itu dan mempercayai segala apa yang dibawa oleh Kitab Suci yang diturunkan kepadanya itu serta mengambil segala apa yang ditetapkan oleh Kitab itu sebagai pedoman dan sunnah yang diikuti. Dan telah dijelaskan dalam Kitab Suci itu, bahwa Nabi Muhammad adalah penutup segala para nabi, maka wajiblah kita iman (percaya) kepada keterangan Kitab Suci yang demikian itu.*

SUMBER: Buku RISALAH TAUHID, karya Muhammad Abduh. Buku ini merupakan pegangan utama dalam mata pelajaran Tauhid di Madrasah Al-Irsyad yang dulu didirikan Syekh Ahmad Surkati di Batavia dan kota-kota lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>