Membaca Al-Qur’an Waktu Haid

Hukum Membaca Al-Qur’an di Waktu Haid

Oleh: Al-Ustadz Umar Hubeis  (1904-1979)

Al-Ustadz UMAR HUBEISPertanyaan:

“Apakah benar agama Islam melarang wanita yang sedang haid untuk membaca Al-Qur’an?”

Jawab:

Tidak benar Islam melarang wanita yang sedang haid membaca Al-Qur’an. Tak ada satu ayat pun dalam Al-Qur’an yang mengharamkan membaca Al-Qur’an bagi wanita yang tengah haid. Sementara dua hadits yang melarangnya, yaitu yang diriwayatkan dari Ibnu Umar dan Jabir, sanadnya sangat lemah dan tidak bisa dijadikan nash untuk menentukan suatu hukum apalagi hukum tahrim (mengharamkan).

Jadi, perintah dan anjuran Al-Qur’an di surat al-Muzammil ayat ke-20, serta beberapa hadits agar umat Islam membaca Al-Qur’an dan mengajarkannya tetap berlaku (secara umum). Belum ditemukan suatu dalil yang shahih, tegas dan jelas yang mengecualikan wanita haid dari perintah dan anjuran itu, sebagaimana hadits yang mengecualikan mereka (wanita haid) dari kewajiban shalat dan puasa sewaktu haid.
BACA SELENGKAPNYA “Membaca Al-Qur’an Waktu Haid”

Eksistensi Al-Irsyad Al-Islamiyyah di Jakarta

Madrasah Al-Irsyad Petojo, Jakarta
Madrasah Al-Irsyad Petojo, Jakarta

Eksistensi organisasi Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah (Jam’iyyah Al-Irsyad Al-Islamiyyah) disingkat Al-Irsyad Al-Islamiyyah sangat lekat dan tidak bisa dipisahkan dengan Jakarta, ibukota Republik Indonesia. Sebab, Al-Irsyad Al-Islamiyyah lahir di Jakarta (dulu Batavia) dan dilahirkan oleh warga jamaah Jakarta (Betawi). Ikatan Al-Irsyad dengan Jakarta ini ibarat seperti Muhammadiyah dengan Jogjakarta dan NU dengan Jombang (Jawa Timur), serta Persatuan Islam (Persis) dengan Bandung.

Kelekatan Al-Irsyad dengan Jakarta bisa dilihat dari fakta bahwa kedudukan pengurus pusat atau pengurus besar (hoofdbestuur) Al-Irsyad Al-Islamiyyah selalu berada di Jakarta sejak berdiri sampai sekarang (saat tulisan ini dibuat, 2017). Dari awal berdiri sampai di tahun-tahun awal para ketua dan seluruh pengurusnya juga asli warga Jakarta (Batavia).

Sejarah Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah bermula dari pendirian Madrasah Al-Irsyad Al-Islamiyyah yang pertama, di Jati Petamburan (Batavia) pada 6 September 1914 (15 Syawwal 1332 H). Tanggal ini lalu dijadikan tanggal berdirinya Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah. Namun, pengakuan hukumnya dari pemerintah kolonial Belanda baru keluar pada 11 Agustus 1915.

Syekh Ahmad Surkati, tokoh sentral pendirian Al-Irsyad Al-Islamiyyah
Syekh Ahmad Surkati, tokoh sentral pendirian Al-Irsyad Al-Islamiyyah

Tokoh sentral pendirian Al-Irsyad adalah Al-‘Alamah Syeikh Ahmad Surkati, seorang ulama besar Mekkah yang berasal dari Sudan. Pada mulanya Syekh Ahmad Surkati datang ke Indonesia atas permintaan perkumpulan Jami’at Khair. Namun karena ada perselisihan dalam pemahaman keagamaan, Syekh Ahmad Surkati pun keluar dari Jami’at Khair dan bersama beberapa sahabatnya mendirikan Al-Irsyad. Nama lengkap beliau adalah SYEIKH AHMAD BIN MUHAMMAD AS-SURKATI AL-ANSHARI.
BACA SELENGKAPNYA “Eksistensi Al-Irsyad Al-Islamiyyah di Jakarta”

Hadits-hadits Al-Mahdi Palsu

Hadits-Hadits tentang Al-Mahdi Palsu

Oleh: Al-Ustadz Umar Hubeis  (1904-1979)

umarhubeis1Pertanyaan:

“Betulkah Imam Mahdi akan muncul di dunia dan apa perannya?”

Jawab:

Khabar tentang Imam Mahdi yang katanya akan muncul di dunia untuk menegakkan keadilan setelah merajalelanya kezaliman dan sebagainya, bersumber dari hadits-hadits yang tidak shahih.

Hadits-hadits tentang Al-Mahdi ini dihimpun oleh Abdullah Muhammad al-Anshari al-Andalusi. Dalam kitab “Mukaddimah” yang ditulis oleh Ibnu Khaldun yang amat terkenal itu dinyatakan bahwa hadits-hadits tersebut dikarang oleh para politisi dari kelompok Syiah dan kelompok lainnya yang berambisi merebut jabatan khalifah.

Ibnu Khaldun menyebutkan, beberapa tokoh Syiah telah menggunakan atau diberi gelar “Al-Mahdi”, diantaranya adalah Muhammad ibnul Hasan al-Askari, yang katanya menghilang ke dalam gua dan kelak akan muncul kembali untuk menegakkan keadilan di dunia serta membawa kemakmuran.
BACA SELENGKAPNYA “Hadits-hadits Al-Mahdi Palsu”

Puasa Syawal, Sunnah atau Bid’ah

Puasa Syawwal, Sunnah atau Bid’ah?

Oleh: Al-Ustadz Umar Hubeis  (1904-1979)

umarhubeis1Pertanyaan:

“Apa hukum puasa Syawal yang enam hari itu? Wajib, sunnah, atau malah bid’ah? Bagaimana pula bila puasa itu dilakukan secara berturut-turut (mutatabi’) selama enam hari?

Jawaban:

Umat Islam di Indonesia menganggap puasa enam hari pada bulan Syawal sesudah berlalunya bulan Ramadhan itu adalah sunnah muakkadah, karena puasa wajib itu hanya di bulan Ramadhan saja. Alasan mereka adalah sebuah hadits Nabi saw. berikut.

Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan dan diikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka seakan-akan dia puasa dahr.” (HR. Muslim)

Puasa dahr adalah puasa tiap hari atau tiap dua hari sekali. Perhitungannya adalah: 30 hari Ramadhan ditambah 6 hari Syawal = 36 hari x 10 kali pahala = 360, yaitu jumlah hari dalam setahun.

BACA SELENGKAPNYA “Puasa Syawal, Sunnah atau Bid’ah”

Mandi Janabah Siang Hari Ramadhan

Mandi Janabah Siang Hari di Bulan Ramadhan

Oleh: Al-Ustadz Umar Hubeis  (1904-1979)

umarhubeis1
Pertanyaan:

“Bagaimana caranya mandi hadas besar waktu siang hari dalam bulan puasa? Dan apakah wajib juga dicuci potongan rambut dan kuku yang dilakukan sebelum mandi?”

Jawab:

Seseorang yang berhadas besar boleh mandi sesudah fajar menyingsing di bulan puasa. Mandi apa saja tidak membatalkan puasa.

Para sahabat dulu umumnya mengira bahwa pada malam hari bulan puasa sesudah tidur tidak boleh bersetubuh, lalu Allah menurunkan firman-Nya ayat 187 surat al-Baqarah:

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari puasa bercampur dengan istri-isteri kamu.”

BACA SELENGKAPNYA “Mandi Janabah Siang Hari Ramadhan”

Batas Akhir Makan Sahur

Batas Akhir Makan Sahur

Oleh: Al-Ustadz Umar Hubeis  (1904-1979)

umarhubeis1Pertanyaan:

“Seseorang yang sedang makan atau sedang bersetubuh (jimak) pada malam bulan Ramadhan lalu terdengar azan shubuh, apakah perbuatan itu boleh diteruskan ataukah wajib dihentikan?”

Jawab:

Seseorang diperbolehkan makan, minum atau bersetubuh (jimak) dan sebagainya sampai fajar menyingsing (shubuh). Apabila fajar telah menyingsing, wajib dia keluarkan apa yang kepalang ada di mulutnya atau menghentikan jimaknya. Kalau hal itu tidak dia lakukan, maka puasanya tidak sah.

Allah swt berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 187:

BACA SELENGKAPNYA “Batas Akhir Makan Sahur”

Wajib Tidak Puasa

Wajib Tidak Puasa

Oleh: Al-Ustadz Umar Hubeis  (1904-1979)

umarhubeis1Pertanyaan:

“Seorang pasien dilarang dokter untuk tidak berpuasa karena sakit maag atau penyakit lain, namun ia tetap berpuasa, dan akhirnya ia meninggal dunia. Mohon penjelasan, Ustadz.”

Jawab:

Apabila si pasien percaya kebenaran keterangan dokter itu, lalu ia melanggar perintahnya sampai ia meninggal, ia dianggap sudah melanggar hukum dan membunuh dirinya sendiri. Sebab, Allah telah berfirman dalam Al-Qur’an:

Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (al-Baqarah: 195)

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (an-Nisaa’: 28)

Maka, barangsiapa meninggalkan sesuatu yang mubah (boleh) sehingga ia mati, maka ia dianggap telah melanggar hukum, membunuh dirinya sendiri dan berdosa.

Demikian ijma’ ulama. (Ahkamul Qur’an, oleh al-Jashash)

Injeksi Anti Lapar

Hukum Injeksi Anti Lapar Saat Berpuasa

Oleh: Al-Ustadz Umar Hubeis  (1904-1979)

Pertanyaan:

Al-Ustadz UMAR HUBEIS“Bagaimanakah menurut hukum, bila seseorang yang berpuasa memakai injeksi tertentu dengan tujuan agar bisa menahan lapar, apakah hal itu tidak mengurangi hikmah puasa?”

Jawab:

Menurut hukum, injeksi untuk berobat tidak membatalkan puasa dan tidak pula mengurangi pahala atau hikmah puasa, sebagaimana pendapat para ulama muta’akh-khirin yang mengalami masa pengobatan secara itu. Tetapi injeksi yang dimaksud dalam pertanyaan Anda ini tidaklah sama dengan injeksi untuk pengobatan, bahkan dapat disamakan dengan cara pemberian makan minum bagi orang yang sakit melalui luar mulut (infus). Maka injeksi tertentu itu sesudah fajar menyingsing, sebelum matahari terbenam, akan membatalkan puasa seseorang, bahkan juga akan mengurangi pahala atau hikmahnya berpuasa.

Penggunaan Hisab dan Rukyat

Penggunaan Hisab dan Rukyat

Oleh: Al-Ustadz Umar Hubeis  (1904-1979)

Al-Ustadz UMAR HUBEIS
Al-Ustadz UMAR HUBEIS

Rasulullah saw. telah menetapkan awal bulan Ramadhan dan awal bulan Syawal dengan rukyat. Beliau bersabda,

Kita adalah suatu umat yang bodoh, tidak pandai menulis dan tidak pandai menghitung (hisab) bahwa satu bulan adakalanya 29 hari atau 30 hari.” (HR. Bukhari)

Ibnu Hajar al-Asqalani menerangkan bahwa yang dimaksud dengan kata “kita” dalam hadits di atas adalah kaum muslimin pada masa itu, saat beliau mengucapkan sabda itu. Kebanyakan mereka buta huruf dan tidak mengerti perhitungan (Fathul Baari IV hal. 89).

Rasulullah saw. bersabda,

BACA SELENGKAPNYA “Penggunaan Hisab dan Rukyat”

Pendaratan Apollo di Bulan dalam Pandangan Islam

PENDARATAN APOLLO 11 DI BULAN DALAM
PANDANGAN ISLAM

Oleh: Ustadz Umar Hubeis  (1904-1979)

Al-Ustadz UMAR HUBEIS
Al-Ustadz UMAR HUBEIS

Pertanyaan:

Apakah berita tentang pendaratan Apollo-11 di bulan dapat dipercaya? Bagaimana pula pandangan Islam terhadap upaya manusia untuk mengarungi ruang angkasa dan planet-planet seperti bulan, Mars, dan lain-lain?

Jawaban:

Kepercayaan kita terhadap berita Apollo-11 adalah sama seperti kepercayaan kita terhadap penemuan-penemuan ilmiah yang positif lainnya. Umat Islam menyambut kabar hasil kemajuan teknologi dan kemajuan bidang ilmiah lainnya dengan gembira serta penuh penghargaan. Ini merupakan salah satu jalan untuk memberikan keyakinan tentang keesaan Tuhan dan kebenaran Al-Qur’an, kitab suci umat Islam. Di dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang berhubungan dengan masalah itu.

Firman-Nya dalam surah Fushshilat ayat 53:
BACA SELENGKAPNYA “Pendaratan Apollo di Bulan dalam Pandangan Islam”