Derajat Orang-orang yang Berpuasa

Derajat Orang-orang yang Berpuasa

hasbi1Oleh: Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy (1904-1975)

(Murid Syekh Ahmad Surkati dan Rektor Universitas Al-Irsyad, Solo, 1960-an)

Orang yang berpuasa ada tiga tingkatan derajatnya:

  1. Meninggalkan makan minum dan persetubuhan
  2. Meninggalkan makan dan syahwat karena Allah dengan mengharapkan ampunan dan surga atau terhindar dari neraka.
  3. Meninggalkan makan dan minum serta syahwat, bahkan menahan hati dari segala yang lain dari Allah, karena semata-mata mengharapkan keridhaan-Nya saja.

Golongan yang kedua dinamakan ahlul khusus dan golongan yang ketiga dinamakan ahlul ma’rifah.

Ahlul khusus memelihara lidah dari berdusta, sesudah menahan diri dari makan, minum dan jimak.


Ahlul ma’rifah memelihara hari dari segala rupa yang selain Allah. Mereka menganggap bahwa puasa itu telah batal dengan memikirkan selain Allah dan hari akhir, dan dengan memikirkan dunia yang tidak ada hubungannya dengan akhirat.

Berkata ahli tasawuf,

“Barangsiapa tergerak di siang hari untuk mengurusi dan mengatur makanan berbuka, ditulislah satu kesalahan baginya, karena yang demikian itu tanda kurang kepercayaannya kepada Allah dan kurang keyakinan kepada rezeki yang telah dijanjikan-Nya.”

Inilah martabat para nabi dan para shiddiqin.

Apabila puasa ahlul ma’rifah ini hanya dikerjakan para shiddiqin dan para muqarrabin, maka puasa khusus itulah yang dikehendaki oleh Islam (untuk umumnya kaum muslimin).

Nabi saw. bersabda,

Puasa itu perisai, maka apabila seseorang kamu lagi berpuasa, janganlah membuat rafas (keji), janganlah berlaku jahil. Dan jika ada seseorang yang hendak membunuhnya, hendaklah ia berkata: sesungguhnya saya sedang berpuasa, saya sedang berpuasa

Demi Tuhan yang diriku ada di tangan-Nya, benar-benar bau busuk mulut orang yang berpuasa, lebih disukai Allah dari bau kesturi.”

Dan meninggalkan makan-minum dan syahwatnya karena-Ku. Puasa itu untuk-Ku dan Aku akan membalasnya. Puasa itu untuk-Ku dan Aku akan membalasnya. Dan sesuatu kebaikan dibalas sepuluh gandanya.”

Dimaksudkan dengan perisai adalah: memelihara diri dari segala kenikmatan syahwat.

Dimaksudkan dengan rafas adalah mengekang segala keinginan yang keji, seperti persetubuhan (jimak) dan lainnya yang membawa kepada rangsangan seks.

Dimaksudkan dengan jahil adalah buruk pekerti yang nampak pada sebagian perbuatan, seperti berteriak, mengeluarkan kata-kata yang tidak disukai orang.

Puasa inilah yang difardhukan atas setiap mukmin yang menjadikannya tangga takwa.

Puasa yang seperti ini menghasilkan dua natijah:

  1. Meninggalkan iradat pada diri si Muslim. Dia menahan diri dari memadatkan perutnya di siang hari sejak dari terbit fajar hingga terbenam matahari.
  2. Mendidik dhamir (perasaan kasih saying pada diri si Muslim).

Sepanjang hari orang yang berpuasa menahan nafsu makan dan minum di waktu dia bersendiri, jauh dari penglihatan manusia. Maka hal ini menjadi latihan bagi dhamirnya untuk tidak mengerjakan sesuatu yang tidak diridhai Allah dan memelihara segala sesuatu yang tidak diridhai Allah, dan memelihar segalam amanah dan hak manusia, dan menjauhkan segala sesuatu yang dibenci Allah.

Dhamir yang sadar inilah yang sangat diperlukan masyarakat. Mengingat hal ini, maka di antara kewajiban pemerintah Islam adalah menangkap orang-orang Islam yang merusak kehormatan orang berpuasa, minum terang-terangan di warung-warung dan sebagainya.*

Sumber: Buku “PEDOMAN PUASA“, karya Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>