Membaca Al-Qur’an Waktu Haid

Hukum Membaca Al-Qur’an di Waktu Haid

Oleh: Al-Ustadz Umar Hubeis  (1904-1979)

Al-Ustadz UMAR HUBEISPertanyaan:

“Apakah benar agama Islam melarang wanita yang sedang haid untuk membaca Al-Qur’an?”

Jawab:

Tidak benar Islam melarang wanita yang sedang haid membaca Al-Qur’an. Tak ada satu ayat pun dalam Al-Qur’an yang mengharamkan membaca Al-Qur’an bagi wanita yang tengah haid. Sementara dua hadits yang melarangnya, yaitu yang diriwayatkan dari Ibnu Umar dan Jabir, sanadnya sangat lemah dan tidak bisa dijadikan nash untuk menentukan suatu hukum apalagi hukum tahrim (mengharamkan).

Jadi, perintah dan anjuran Al-Qur’an di surat al-Muzammil ayat ke-20, serta beberapa hadits agar umat Islam membaca Al-Qur’an dan mengajarkannya tetap berlaku (secara umum). Belum ditemukan suatu dalil yang shahih, tegas dan jelas yang mengecualikan wanita haid dari perintah dan anjuran itu, sebagaimana hadits yang mengecualikan mereka (wanita haid) dari kewajiban shalat dan puasa sewaktu haid.
BACA SELENGKAPNYA “Membaca Al-Qur’an Waktu Haid”

Hadits-Hadits Nisfu Sya’ban menurut Abduh dan Rasyid Ridha

Hadits-hadits tentang Malam Nishfu Sya’ban menurut Muhammad Abduh dan M. Rasyid Ridha

Muhammad Abduh
Syekh Muhammad Abduh

Al-Imam Muhammad Abduh berkata, “Apa yang dikatakan kebanyakan orang bahwa yang dimaksud dengan Lailah Mubarakah adalah malam Nishfu Sya’ban, di mana pada malam itu dibagi-bagikan rezeki dan umur, adalah merupakan suatu kelancangan mulut tentang urusan yang ghaib. Tanpa alasan yang tegas dan tandas. Dan kita tidak boleh meng-i’tikadkan sesuatu (yang ghaib) tanpa ada keterangan yang mutawatir dari Rasulullah saw. yang maksum.  Sebab, apa yang seperti tersebut di atas (tentang pembagian rezeki dan umur serta lainnya) tidaklah benar, karena hadits-hadits yang berkenaan dengan itu sangat kacau dan lemah para rawinya dan banyak kebohongannya. Karenanya tidak boleh dipergunakan untuk urusan aqidah dan keimanan.”

Sayyid Muhammad Rasyid Ridha dalam Majalah Al-Manaar, jilid VI, halaman 96 menulis, “Doa Sya’ban yang terkenal itu, tidak diizinkan Allah.”

Beliau menjelaskan pula di Majalah Al-Manar, jilid XIV, halaman 250-256, “Diriwayatkan dalam kitab-kitab Al-Maudlu’at wal Wahiyat Wadli’af, bahwa hadits-hadits yang tidak dapat digunakan sebagai hujjah untuk melakukan ibadah banyak sekali, di antaranya:  shalat malam Raghaib di bulan Rajab dan shalat malam Nisfu Sya’ban. Akan tetapi, syiar Islam yang tak berdasar dan terkenal  ini, yak tidak disebut dalam hadits, telah lama diamalkan umat. Maka, sebagian kalangan ahli fikih dan tasawuf banyak yang tertipu dengan shalat Rajab dan Sya’ban ini, seperti Abi Thalib al-Makky dan Abi Hamid al-Ghazali (Imam Ghazali) yang memiliki kedudukan tinggi. Itu disebabkan oleh kelemahan mereka di dalam ilmu hadits. Para ahli hadits dan fuqaha juga telah menjelaskan kekhilafan dan kekeliruan kedua tokoh ini seperti Imam Nawawi yang merupakan sokoguru pengikut Syafi’i.
BACA SELENGKAPNYA “Hadits-Hadits Nisfu Sya’ban menurut Abduh dan Rasyid Ridha”

Hadi Addaba, Guru Al-Irsyad yang Syahid Dibantai PKI

monumen-pembantaian-pki-madiun
Monumen Pembantaian PKI di Madiun

Oleh: Mansyur Alkatiri

Namanya memang tidak banyak dikenal. Namun, nama Ustadz Hadi Addaba, seorang ulama dan pejuang ini tidak bisa dilupakan begitu saja. Jasanya cukup besar bagi Republik Indonesia yang baru merdeka, karena ia melalui corong radio setiap hari menyiarkan berita-berita kemerdekaan dan eksistensi Republik Indonesia ke dunia luar, khususnya ke negara-negara Timur Tengah.

Ustadz Hadi Addaba adalah guru sekolah Al-Irsyad Surabaya di masa-masa awal (tahun 1920-an), bersama Al-Ustadz Umar Hubeis, Ustadz Abdullah Jalal al-Makky, Ustadz Ali Balbeid dan lain-lain, di mana salah satu muridnya yang terkenal adalah Mohammad Saleh Suaidy (1913-1976), salah satu kader hebat Al-Irsyad yang dikenal namanya sebagai pengusul berdirinya Kementerian Agama RI dulu.

Dalam Kongres Al-Islam ke-12 di Solo 5-8 Juli 1941, yang merupakan Kongres MIAI ke-II (disebut juga Kongres Muslimin Indonesia ke-III), Ustadz Hadi Addaba tampil mewakili Al-Irsyad Al-Islamiyyah bersama Said Marzuq.

Hadi Addaba kemudian menjadi kolega M. Saleh Suaidy, mantan muridnya, dalam siaran Bahasa Arab Radio Republik Indonesia (RRI) Yogyakarta, dan berperan dalam menyebarkan berita-berita seputar kemerdekaan dan eksistensi RI ke negeri-negeri Timur Tengah, khususnya saat ibukota pemerintahan Indonesia berpindah ke Yogyakarta sejak Januari 1946. Lewat berita-beritanya itu, kemerdekaan Republik Indonesia disambut gempita di negara-negara Arab, dan bantuan pun mengalir dari mereka dalam bentuk diplomasi, solidaritas, bahkan materi.

Namun, ustadz pejuang ini harus menemui syahid di tangan para pemberontak PKI Madiun (September 1948) pimpinan Muso dan Amir Syarifuddin, yang merupakan antek Moskow dan Belanda. Saat itu, Ustadz Hadi Addaba tercatat sebagai salah satu pengajar (guru) di Pesantren Sabilil Muttaqin, Takeran, Magetan. Milisi FDR/PKI menangkap dan menculik para ustadz di pesantren itu, termasuk pemimpinnya, Kiai Imam Mursjid Muttaqien, Ustadz Hadi Addaba, Ustadz Ahmad Baidawy, Ustadz Husein, Ustadz Hartono, Ustadz Imam Faham, dan lain-lain. Pesantren Sabilil Muttaqin Takeran ini merupakan salah satu pesantren yang paling berwibawa di Magetan saat itu.

Mereka tidak pernah kembali. Bahkan sebagian besar ditemukan sudah menjadi mayat di lubang-lubang pembatantaian yang tersebar di berbagai tempat di magetan. Jenazah Ustadz Hadi Addaba sendiri diketemukan di sebuah semur tua di Desa Cigrok, Takeran (Magetan), bertumpuk bersama jenazah-jenazah lainnya. Adasekitar 30 jenazah yang menjadi korban pembantaian di sumur tua itu. Selain Hadi Addaba, ada pula jenazah KH Imam Shofwan, pengasuh Pesantren Thoriqussu’ada Rejosari, Madiun, dan dua puteranya. KH Shofwan dikubur hidup-hidup di dalam sumur itu setelah disiksa berkali-kali. Bahkan ketika dimasukkan ke dalam sumur, KH Imam Shofwan sempat mengumandangkan adzan. Dua putra KH Imam Shofwan, yakni Kyai Zubeir dan Kyai Bawani juga jadi korban dan dikubur hidup-hidup secara bersama-sama.*

Rasyid Ridha & Hadits Israiliyat

Syeikh Rasyid Ridha, Penolak Keras Hadits Israiliyat

Syeikh Muhammad Rasyid Ridha adalah ulama modernis dan salafiyah asal Mesir, murid utama Syekh Muhammad Abduh. Ia dikenal sebagai ahli hadits besar dan mufasir Al-Qur’an. Ia banyak menggunakan hadits Nabi saw. dalam menafsirkan Al-Qur’an (Tafsir Al-Manar). Namun, ia dikenal selektif dalam memakai hadits. Tidak semua hadits yang ia peroleh digunakannya dalam menafsirkan Al-Qur’an dan menerangkan ajaran-ajaran Islam.

Syekh M. Rasyid Ridha
Syekh M. Rasyid Ridha

Menurut Rasyid Ridha, riwayat-riwayat yang berasal dari Rasulullah saw., para sahabat dan para ulama tabi’in di bidang tafsir memang diperlukan. Riwayat-riwayat yang berasal dari Rasulullah saw. dan shahih, tidak dapat dikalahkan oleh riwayat-riwayat lain. Peringkat berikutnya adalah riwayat-riwayat dari para ulama sahabat yang berkenaan dengan pengertian-pengertian bahasa atau amaliah yang ada pada masa mereka. Namun, riwayat-riwayat yang shahih dari mereka itu tidak banyak jumlahnya.

Kebanyakan tafsir bil ma’tsur (tafsir dengan riwayat) bersumber dari para periwayat yang memperolehnya dari kalangan zindik Yahudi dan Persia atau ahli kitab yang telah memeluk Islam.1) Hal itu terlihat dengan jelas pada cerita-cerita para rasul bersama kaum mereka, kitab-kitab suci dan mukjizat-mukjizat mereka, atau cerita-cerita yang lain, seperti cerita tentang para penghuni goa (ashabul kahfi), negeri Iram Dzatul Imad, Suhir Babil, Awj bin Unuq, dan peristiwa-peristiwa misterius yang menjadi tanda-tanda akan tibanya hari kiamat. Semuanya itu adalah dongeng dan khurafat yang dipercayai begitu saja oleh para periwayat dan sementara sahabat.2)

BACA SELENGKAPNYA “Rasyid Ridha & Hadits Israiliyat”

Said Thalib Alhamdani, Ahli Fiqih Al-Irsyad

USTADZ SAID THALIB AL-HAMDANI, Riwayat Hidup, Perjuangan dan Karya Tulisnya

Oleh: Geys Machfoedz Amar, SH *

HSA ALHAMDANIUlama yang faqiih kian langka. Mereka satu persatu telah berpulang ke rahmatullah. Sebut saja Ustadz Umar Hubeis, Ustadz Said Thalib, Prof Rasyidi dan lain-lain. Demikian yang dikeluhkan banyak orang. Untunglah ada buku dan tulisan-tulisan yang ditinggalkannya. Tetapi siapa dari generasi muda yang kenal atau punya tulisan-tulisan ulama-ulama itu yang mengupas tentang bid’ah, khurafat, tasawwuf dan ekstrimitas serta masalah-masalah keagamaan yang lain? Kemana dicari jawab atas masalah fiqhiyah yang dihadapi umat dewasa ini? Inilah musykilaat yang ada dihadapan kita! Ulama yang telah dihasilkan oleh pendidikan Al-lrsyad pada masa-masa awal pendiriannya, keseluruhannya telah tiada. Buku-bukunya pun telah lenyap dari peredaran, dan Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah tidak lagi bisa berbuat banyak!

Pada beberapa waktu lalu penulis bertandang ke rumah seorang kerabat. Sesudah tegur sapa, dipersilahkan duduk sambil bercakap-cakap ringan. Pandangan segera terarah kepada lampu meja yang ada di ruangan itu, di mana sebagiannya ditutup dengan kertas. Setelah mendapat penjelasan mengenai alasan ditutupnya sebagian dari lampu hias tersebut adalah patung tentara kompeni yang merupakan karya seni yang indah, singkat kata sang kawan tersebut mengatakan bahwa Islam melarang hiasan patung berbentuk manusia! Benarkah itu? Dari mana kita akan mendapat jawab terhadap masalah seperti itu? Atau dari mana kita mendapat jawab dan petunjuk masalah-masalah lain, misalnya bersangkut paut dengan khurafat ahli sufi, kupasan tentang Syech Abdul Qadir Jaelani yang dipuja secara berlebihan atau bolehkah wanita menjadi imam shalat Jum’at?

BACA SELENGKAPNYA “Said Thalib Alhamdani, Ahli Fiqih Al-Irsyad”

Shalat Tarawih

Shalat Tarawih

Oleh: Al-Ustadz Said Thalib Al-Hamdani (1903-1983 M)

Rasulullah saw. suka sekali menyemarakkan bulan Ramadhan dengan shalat di malam harinya. Beliau memerintahkan dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra.,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa berdiri (shalat malam) di bulan Ramadhan karena iman dan karena mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosa sebelumnya.” (HR. Jamaah)

Dari Abdurrahman bin Auf, ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda,

Sungguh Allah telah mewajibkan puasa Ramadhan dan mensunnahkan shalat di dalamnya, barangsiapa yang berpuasa dan shalat di malamnya karena iman dan karena mengharap ampunan Allah, maka dia akan keluar dari dosanya ibarat pada pagi hari ia dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Ahmad)
BACA SELENGKAPNYA “Shalat Tarawih”

Rakaat Shalat Tarawih

Jumlah Rakaat Shalat Tarawih

Oleh: Syekh Al-Allamah Ahmad Surkati al-Anshari (1874-1943 M)

PERTANYAAN:

Shalat tarawih apakah sebelas rakaat dengan witir ataukah dua puluh tiga rakaat? Dan mana yang lebih afdal: shalat tarawih berjamaah atau sendirian, di rumah atau di masjid?(Ahmad Syukri, murid Al-Irsyad School di Batavia, asal Lampung, pada 8 Zulqaidah 1341)

JAWABAN Syekh Ahmad Surkati:

Ahmad Surkati 220Tarawih atau melaksanakan shalat pada malam bulan Ramadhan hukumnya adalah sunnah muakkadah (shalat sunnah yang keras dianjurkan untuk menjalankannya). Menurut sabda Nabi saw.,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barang siapa berdiri shalat pada malam bulan Ramadhan karena iman dan keikhlasannya, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Shalat tarawih ini lazim juga disebut “shalat witir” , sebab ia diakhiri dengan satu rakaat. Shalat ini adalah shalat tathawwu (shalat yang sering dilakukan sendiri), diselenggarakan di antara isya dan subuh. Hanya saja shalat tersebut sangat diutamakan pada bulan Ramadhan.
BACA SELENGKAPNYA “Rakaat Shalat Tarawih”

Syekh Abdul Aziz Ar-Rasyid, dari Kuwait ke Al-Irsyad

Syekh Abdul Aziz Ar-Rasyid, Pembuka Hubungan Al-Irsyad dan Kuwait

Oleh: Abdullah Batarfie

ABDUL AZIZ AR-RASYID AL-KUWAITI
ABDUL AZIZ AR-RASYID AL-KUWAITI

Menteri Sosial Dr. Salim Segaf al-Jufri telah meresmikan pusat dakwah dan pendidikan Al-Irsyad Al-Islamiyyah di Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, pada Senin 6 Mei 2013. Proyek besar yang didanai pemerintah Kuwait melalui lembaga sosial Syuhada Kuwait ini bernama “Islamic Center Syuhada Kuwait Al-Irsyad Al-Islamiyyah”,  berdiri di atas tanah seluas sekitar dua hektare.

Pilihan Cipanas sebagai lokasi Islamic Center Syuhada Kuwait ini secara kebetulan memiliki jejak sejarah yang tidak dapat dipisahkan dari jejak Kuwait di Indonesia. Karenanya saya mencoba membuka lembaran jejak tersebut dalam sebuah biografi singkat Syekh Abdul Aziz Ar Rasyid, ulama asal Kuwait yang pernah tinggal di Indonesia hingga akhir hayatnya.

Al-Irsyad dan Kuwait memiliki hubungan kesejarahan yang kuat melalui ikatan persahabatan yang erat antara Syekh Ahmad Surkati, pendiri Al-Irsyad Al-Islamiyyah, dengan Syekh Abdul Aziz Ar-Rasyid, ulama dan tokoh pendidik asal Kuwait. Kedua orang ini telah mengabdikan dirinya dalam dakwah dan berjuang untuk menegakkan kembali kemurnian ajaran Islam berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw., sampai harus meninggalkan negaranya jauh ke Indonesia.
BACA SELENGKAPNYA “Syekh Abdul Aziz Ar-Rasyid, dari Kuwait ke Al-Irsyad”

Rasyid Ridha tentang Imam Mahdi

Pendapat Syeikh M. Rasyid Ridha tentang Imam Mahdi

Rasyid RidhaHadits-hadits tentang akan datangnya Imam Mahdi menjelang akhir zaman telah ditanggapi beragam oleh para ulama. Ada yang menganggapnya benar dan harus dipercaya, tapi ada yang tidak percaya dengan keotentikan hadits-hadits itu. Salah satu ulama besar yang tidak mempercayai kebenaran khabar tentang akan datangnya Imam Mahdi itu adalah Syekh Muhammad Rasyid Ridha, ulama besar reformis asal Mesir, murid utama dari Syekh Muhammad Abduh.

Ulama yang menjadi rujukan utama kalangan modernis-reformis di Indonesia ini berkata:  

“Adapun pertentangan di antara hadits-hadits Al-Mahdi sangat kuat dan jelas, mengkompromikan riwayat-riwayat tersebut sangat sulit, orang-orang yang mengingkarinya sangat banyak, dan syubhatnya sangat jelas. Karena itu Imam Syaikhani (Bukhari dan Muslim) tidak meriwayatkan sama sekali hadits Al-Mahdi ini dalam kitab Shahih beliau, padahal kerusakan dan fitnah banyak tersebar di kalangan bangsa-bangsa yang beragama Islam.” [Tafsir Al-Manar 9: 499]
BACA SELENGKAPNYA “Rasyid Ridha tentang Imam Mahdi”

Betulkah Nabi Isa Akan Turun ke Bumi Lagi?

Betulkah Nabi Isa akan Turun Lagi ke Bumi?

Oleh: Al-Ustadz Umar Hubeis (1904-1979)

umarhubeis1Pertanyaan:

“Bagaimanakah pendapat Islam tentang Nabi Isa as. Dan bagaimana pula tentang faham yang mengatakan bahwa Nabi Isa itu akan turun kembali ke dunia?”

Jawab:

Nabi Isa as. Adalah seorang manusia yang diciptakan dengan cara yang istimewa atas kekuasaan dan kebesaran-Nya, seperti diciptakannya Nabi Adam as.

Nabi Isa diciptakan dari seorang ibu yang suci dan saleh bernama Maryam dari suku al-Imran. Dilahirkan di Desa Beitlehem di negeri Ursyalim (Palestina), kemudian diangkat menjadi Nabi dan Rasul untuk Bani Israil khususnya.

Para ulama masih memperselisihkan tentang kematiannya. Ada yang mengatakan kalau dia masih hidup dan ada yang berpendapat bahwa dia sudah mati dan dikubur di suatu tempat.
BACA SELENGKAPNYA “Betulkah Nabi Isa Akan Turun ke Bumi Lagi?”