Revolusi Al-Irsyad di Indonesia

GERAKAN AL-IRSJAD DI INDONESIA

Oleh: Al-Ustadz Umar Nadji  (1900-1974)

(murid utama Syekh Ahmad Surkati, asal Bogor)

Sumber:Menjambut Seperempat Abad Pemuda Al-Irsjad 1964”, terbitan Pemuda Al-Irsjad Pekalongan, September 1964.

Kami diminta agar ikut menulis suatu karangan singkat mengenai Revolusi Al-Irsjad jang telah dilupkan oleh warganja sendiri.

Permintaan itu kami terima dengan gembira dan penghargaan tinggi oleh karena memperingati ulang tahun satu Gerakan jang besar djasanja tetapi tidak mendapatkan penghargaan sewadjarnja.

Walaupun waktu dan ruang jang diberikan kepada kami sempit, namun hasrat kami besar untuk memenuhi harapan pemuda (maksudnya: Pemuda Al-Irsjad) dengan maksudnja jang mulia itu.

Kota Pekalongan adalah Kota Perdjuangan jang utama, maka tidak heran kalau Pemuda-pemudanja mengangkat Pandji-pandji Perjuangan Pembangunan semesta dalam alam Demokrasi Terpimpin. Kami pertjaja mereka dapat mensukseskan Tjita-tjita, Prinsip, dan Tudjuan Al-Irsjad.
BACA SELENGKAPNYA “Revolusi Al-Irsyad di Indonesia”

Ahmad Surkati di Jamiat Khair Indonesia

SYAIKH AHMAD SURKATI (1875-1943), Pembaharu & Pemurni Islam di Indonesia (3)

Oleh: Prof. Dr. Bisri Affandi, MA

KIPRAH AHMAD SURKATI DI JAMIAT KHAIR, BATAVIA

Jpeg
BEKAS GEDUNG SEKOLAH JAMIAT KHAIR DI PEKOJAN. Di sinilah Syekh Ahmad Surkati mengawali kiprah intelektualnya di Indonesia (FOTO: Mansyur Alkatiri)

Dari dokumen-dokumen itu dikatakan, Ahmad Surkati datang ke Indonesia di tahun 1329 H atau tahun 1911 M.[1] Ia didatangkan oleh Perguruan Jamiat Khair, suatu perguruan yang anggota pengurusnya terdiri dari orang-orang Indonesia keturunan Arab golongan Ba-Alawi (keluarga besar Alawi) di Jakarta.[2]

Maksud pengurus Jamiat Khair mendatangkan Ahmad Surkati ialah dalam rangka memenuhi kebutuhan guru. Menurut Deliar Noer, sekolah Jamiat Khair bukan lembaga pendidikan yang semata-mata bersifat agama, tetapi juga mengajarkan ilmu berhitung, sejarah, dan pengetahuan umum lainnya.[3]

Bahasa pengantar di Perguruan Jamiat Khair adalah bahasa Melayu atau Indonesia. Sedang bahasa asing yang diajarkan selain bahasa Arab adalah bahasa Inggris yang termasuk mata pelajaran wajib, pengganti bahasa Belanda yang sengaja tidak diajarkan di sekolah ini.

Untuk memenuhi kebutuhan tenaga pengajarnya, Jamiat Khair mendatangkan guru-guru dari daerah dan luar negeri. Sebelum Ahmad Surkati, organisasi ini telah mendatangkan al-Hashimi, guru asal Tunis yang tiba di Indonesia sekitar awal 1911.
BACA SELENGKAPNYA “Ahmad Surkati di Jamiat Khair Indonesia”

Ahmad Surkati, di Madinah dan Makkah

SYAIKH AHMAD SURKATI (1875-1943), Pembaharu & Pemurni Islam di Indonesia (2)

Oleh: Prof. Dr. Bisri Affandi, MA

MASA STUDI DI MADINAH DAN MAKKAH

MAKKAH di Masa Lalu
MAKKAH di Masa Lalu. Di kota suci ini Ahmad Surkati memperoleh gelar Al-Allamah

Sewaktu berada di Makkah, hubungan antara Ahmad Surkati dan keluarganya terputus, karena putusnya jalan haji antara Sudan dan Hijaz. Baru si tahun 1316 H atau tahun 1898 M, yakni setelah tentara Mesir dan Inggris memasuki negeri Sudan, hubungan itu pulih kembali.

Akan halnya Ahmad Surkati, dia ternyata tak lama bermukim di Makkah. Dari keterangan kawannya yang berada di Makkah pada Sati Muhammad, diketahui Ahmad Surkati berada di Makkah hanya sementara, karena dia lalu meneruskan perjalanan ke Madinah.

Di Madinah

Penuturan Sati Muhammad, juga yang disiarkan oleh Majlis Da’wah Al-Irsyad,[1] Ahmad Surkati bermukim di Madinah sekitar empat setengah tahun. Di Madinah ia memperdalam ilmu agama Islam dan bahasa Arab.
BACA SELENGKAPNYA “Ahmad Surkati, di Madinah dan Makkah”

Ahmad Surkati, Masa Kecil di Sudan

SYAIKH AHMAD SURKATI, Pembaharu dan Pemurni Islam di Indonesia (1)

Oleh: Prof. Dr. Bisri Affandi, MA

Masa Kecil dan Remaja Di Sudan

Dongola mapAhmad Surkati lahir di Desa Udfu, Jazirah Arqu, daerah Dongula (Sudan), pada 1292 H atau 1875 M. Ayahnya bernama Muhammad, dan diyakini masih keturunan dari Jabir bin Abdullah al-Anshari, sahabat Rasulullah saw. dari golongan Anshar.

Berkenaan dengan tradisi beragama di tanah kelahiran Ahmad Surkati, Spencer Trimingham memperkirakan Islam masuk ke Dongula pada abad ke-14. Salah seorang pendiri lembaga pengajaran Islam waktu itu disebut dengan nama Ghulam Allah ibn Aid yang berasal dari Yaman. Kemudian datang empat orang yang mengaku keturunan Jabir melanjutkan lembaga pengajaran tersebut dengan mendirikan khalwa di Sha’iqi, Dongula.

Karena masih keturunan Jabir bin Abdullah al-Anshari maka Muhammad memakai nama tambahan al-Anshari. Mengacu dari nama ayahnya, secara lengkap nama Ahmad Surkati adalah Syekh Ahmad Muhammad Surkati al-Anshari.
BACA SELENGKAPNYA “Ahmad Surkati, Masa Kecil di Sudan”

Awal Berdiri Al-Irsyad

AHMAD SURKATI DAN AWAL BERDIRI AL-IRSYAD

surkatiSetelah perbedaan pendapat dengan Jami’atul Khair tidak bisa diselesaikan lagi, maka Syekh Ahmad Surkati dengan tegar dan penuh keyakinan meninggalkan Jamiatul Khaair pada 1914. Surkati pun bersiap untuk kembali ke Mekkah guna meneruskan kembali pendidikannya di kota suci itu yang terpaksa ditinggalkannya karena panggilan jihad yang lbih besar di Indonesia.

Tapi, niat Surkati itu dicegah oleh para sahabatnya, terutama Umar Yusuf Manggus, yang menjabat sebagai Kapten Arab di Jakarta sejak 28 Desember 1902. Mereka membujuk agar Surkati meneruskan aktifitas pendidikannya di Jakarta, setidak-tidaknya menangguhkan kepulangannya ke Mekkah hingga lepas Ramadhan dan berlebaran Syawal dulu di Jakarta.
BACA SELENGKAPNYA “Awal Berdiri Al-Irsyad”

Sejarah Singkat Al-Irsyad

SEJARAH SINGKAT AL-IRSYAD

Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah (Jam’iyat al-Islah wal Irsyad al-Islamiyyah) berdiri pada 6 September 1914 (15 Syawwal 1332 H). Tanggal itu mengacu pada pendirian Madrasah Al-Irsyad Al-Islamiyyah yang pertama, di Jakarta. Pengakuan hukumnya sendiri baru dikeluarkan pemerintah Kolonial Belanda pada 11 Agustus 1915.

Tokoh sentral pendirian Al-Irsyad adalah al-‘Alamah Syeikh Ahmad Surkati, seorang ulama besar Mekkah yang berasal dari Sudan. Pada mulanya Syekh Surkati datang ke Indonesia atas permintaan perkumpulan Jami’at Khair –yang anggota pengurusnya terdiri dari orang-orang Indonesia keturunan Arab golongan sayyid, dan berdiri pada 1905. Nama lengkapnya adalah SYEIKH AHMAD BIN MUHAMMAD ASSOORKATY AL-ANSHARY.
BACA SELENGKAPNYA “Sejarah Singkat Al-Irsyad”